Berita

Sabam Leo Batubara bersama menantu dan cucu/Ist

Nusantara

Tiada Lagi Pak Leo Batubara

RABU, 29 AGUSTUS 2018 | 20:33 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

MOHON dimaafkan Om. Ayah sudah tidak ada. Meninggal tadi sore. Begitu suara lirih Astrid Batubara saat di telpon, Rabu malam (29/8).

Astrid adalah istri Bobby Batubara, putera bungsu tokoh pers Sabam Leo Batubara (80 tahun).

Sejak sore berita kematian tenaga ahli Dewan Pers itu sudah beredar di grup- grup WhatsApp.

Pak Leo, demikian panggilan akrabnya, Rabu (29/8) sore tiba-tiba terjatuh di ruang kerjanya di lantai 7 Gedung Dewan Pers. Kepalanya berdarah membentur tembok.
Pak Leo, demikian panggilan akrabnya, Rabu (29/8) sore tiba-tiba terjatuh di ruang kerjanya di lantai 7 Gedung Dewan Pers. Kepalanya berdarah membentur tembok.

Ia pun dilarikan ke RSPAD. Namun jiwanya tak tertolong. Dalam perjalanan ke RS itu ia menghembus nafas terakhir.

Astrid menceritakan seluruh keluarga merasa terpukul saat dikabari ayah, mertuanya telah tiada. Kepergiannya terkesan amat mendadak.

"Tidak ada petunjuk beliau menderita sesuatu penyakit. Tadi pagi Bapak sempat jalan pagi di komplek rumah. Saya yang temani. Setelah sarapan beliau ke kantor," paparnya.

Pak Leo meninggalkan lima anak dan tujuh cucu. Beliau baru tiga hari lalu merayakan ulang tahun ke 80. Esok tanggal 30 Agustus pas sebulan wafatnya Ibu Linton Tambunan, isterinya.

Pejuang Kebebasan Pers

Sabam Leo Batubara biasa dipanggil Leo. Ia dikenal sebagai salah satu pembela kebebasan pers. Pernah menjadi  Wakil Ketua Dewan Pers periode 2007-2010. Pada tahun 1999, ia ikut aktif terlibat dalam perumusan UU No. 40/1999 tentang Pers.

Ginjal

Satu-satunya penyakit yang Astrid ketahui diderita Pak Leo hanya satu, yaitu ginjal. "Ginjal tinggal satu. Operasinya memang terjadi 45 tahun lalu. Tapi kami  sekeluarga fokus selalu menjaga itu," ungkapnya.

Pak Leo memang dikenal oleh kalangan wartawan sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kemerdekan pers. Dalam diskusi-diskusi tentang pers suaranya sangat lantang dan menggelegar bicara tentang kebebasan pers. Pak Leo pun terbilang produktif menulis di berbagai surat kabar. Dia juga melahirkan banyak buku tentang teori pers.

Pak Leo tidak membela membabi buta koops wartawan. Dia pun mengecam wartawan yang tidak bekerja professional. Wartawan yang tidak mematuhi kode etik professi dalam bekerja sering dilabraknya. Istilah wartawan abal-abal sering digunakan untuk menjuluki wartawan yang tidak menaati aturan hukum dan kode etik.

Wartawan abal-abal hanya mengotori dunia pers, tidak pantas dibela. Begitu sikapnya. Kukuh dipertahankan. Tidak perduli risikonya dimusuhi wartawan yang dikritiknya.

Saya mengenal Pak Leo puluhan tahun lalu. Ketika almarhum masih bekerja sebagai pemimpin perusahaan di Harian Suara Karya.

Semakin intens menjelang reformasi 1998 dan setelahnya. Tidak selalu sejalan. Kami pun sering berbenturan pendapat. Baik dalam diskusi maupun polemik di media. Terakhir masalah rekomendasi almarhum dalam sengketa berita yang berakhir dengan kematian wartawan M Yusuf dalam masa tahanan di Kota Baru, Kalimantan Selatan. Namun perbedaan  yang sering kontras  itu tidak mengurangi  rasa hormat kepada beliau sebagai senior, dan teman lama.

"Ini foto bapak tadi pagi jam 8, kami temenin jalan pagi. Sehabis itu makan makanan kesukaannya yang saya masakin," kata Astrid mengirimi ke saya foto almarhum dengan teks itu.

Wajah Pak Leo tampak sumringah. Tapi begitulah takdir. Tidak ada yang bisa menduga. Sulit kita percaya tapi nyata.

Sabam Leo Batubara lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara 26 Agustus 1939. Selain di Dewan Pers, almarhum juga pernah memimpin organisasi penerbit Pers, SPS.
 
Jebolan IKIP (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ini juga ikut merumuskan Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

Saat ini mendiang disemayamkan di rumah duka RSPAD, dan akan dikebumikan Jumat (31/8) jam 11 di Pemakaman Sandiego, Karawang, Bekasi.

Selamat jalan Pak Leo. Semoga Tuhan menyediakan tempat yang lapang, nyaman, indah disisiNya. Berdampingan dengan Ibu Linton. Dalam keabadian. [***]

Penulis adalah Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
 

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya