Berita

Suhardi Alius/Humas BNPT

Pertahanan

Mahasiswa Hati-Hatilah Dalam Memilih Mentor

SELASA, 28 AGUSTUS 2018 | 10:17 WIB | LAPORAN:

Pihak perguruan tinggi mulai dari pimpinan, dosen dan staf diharapkan untuk tidak acuh terhadap para mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di lingkungan kampusnya.

Pihak kampus harus sering-sering mengontrol dan melakukan komunikasi dengan baik bersama para mahasiswanya agar para mahasiswa terhindar dari pengaruh paham radikalisme negatif seperti intolerasi, anti Pancasila, anti NKRI dan penyebaran paham-paham takfiri.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Suhardi Alius saat menjadi pembicara di hadapan sebanyak 2.817 mahasiwa baru pada acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) 2018 Universitas Pancasila di Gedung Serba Guna Universitas Pancasila, Srengseng Sawah, Jakarta, Senin (27/8).


"Karena komunikasi yang baik antara mahasiswa dan dosen tentunya akan menumbuhkan kepercayaan dan memudahkan kita untuk memerangi masalah radikalisme di lingkungan kampus. Sekarang ini sudah kelihatan responnya sangat luar biasa bagus dari mahasiswa baru Universitas Pancasila yang jumlahnya mencapai 2.817 ini," ujar Suhardi.

Mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhanas RI ini mengatakan,  para mahasiswa juga harus bisa untuk ikut berperan serta, misalnya seperti bisa mengidentifikasi dan bahkan memberikan solusi-solusi kepada guru atau dosennya jika menemukan hal-hal yang agak menyimpang yang ada di lingkungan kampusnya.

"Hati-hati dalam memilih mentor dan hati-hati juga dengan dosen. Jika menemukan sesuatu yang aneh-aneh di kampus segera laporkan. Demikian pula dengan  dosen,  kami minta untuk tidak acuh terhadap mahasiswanya, tetapi dosen juga harus ikut berperan aktif untuk mendeteksi. Jika pihak kampus tidak bisa, laporkan kepada kami (BNPT), nanti kami yang akan ikut asistensi," ujar alumni Akpol tahun 1985 ini dalam paparannya.

Suhardi mengakui kalau dirinya akhir-akhir ini sangat konsen untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa agar terhindar dari pengaruh radikalisme negarif dan terorisme. Hal ini dikarenakan para mahasiswa ini adalah generasi penerus bangsa, sehingga harus diberikan pencerahan mengenai bagaimana mengidentifikasi dan bagaimana mahasiswa ini ikut mengambil peran untuk melihat fenomena di sekitarnya, khususnya masalah radikalisme di lingkungan pendidikan.

"Kalau hari Minggu kemarin saya di Itenas Bandung, lalu pekan lalu di Universitas Indonesia (UI)  dan sekarang saya ada bicara di Universitas Pancasila. Adik-adik mahasiwa ini adalah orang-orang yang baru diterima dan tentunya dengan menjadi pionir-pionir yang baik ini kita bisa yakinkan bahwa terbebas dari hal-hal yang sifatnya negatif di lingkungan pendidikan," ujar mantan Wakapolda Metro Jaya tersebut.

Suhardi mengatakan, selama ini para mahasiswa ini selalu menjadi sasaran target ‘cuci otak’ dari para kelompok kelompok teroris.

"Ini karena para anak muda ini emosionalnya masih belum stabil tetapi keinginan tahuannya terhadap sesuatu itu sangat tinggi. Jadi mahasiswa ini salah satu sasaran kelompok-kelompok teroris untuk dia pengaruhi lalu akan direkrut,” jelasnya.

Namun demikian  mantan Wakapolda Metro Jaya ini memastikan bahwa ke depannya pembekalan mengenai bahaya radikalisme dan terorisme tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, tetapi juga kalangan guru di sekolah, tokoh masyarakat dan juga para tokoh agama.

"Saya sudah bicara dengan Mendibud, saya akan bicara di tataran guru-guru sekolah dan juga saya akan bicara kepada para tokoh masyarakat dan  tokoh agama untuk kita kasih pencerahan yang sama sehingga kita punya satu visi dan persepsi tentang masalah ini. Sehingga kita bisa bersama-sama mencegah paham paham radikalisme dan paham paham negatif lainnya agar tidak berkembang di tengah tengah masyarakat," kata Suhardi mengakhiri.
 
Tampak hadir dalam acara yang mengambil tema besar “Membangun Kecerdasan Intelektual Berdasarkan Iptek dan Karakter Generasi Milenial Berlandaskan Nilai-Nilai Luhur Pancasila dalam Rangka Berkontribusi kepada Masyarakat, Bangsa dan Negara” ini di antaranya anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar. [wid]

 

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya