Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Malumologi Jerman

SENIN, 13 AGUSTUS 2018 | 08:27 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

JAUH sebelum mulai melakukan penelitian terhadap rasa malu, saya sudah tahu bahwa bangsa paling terbebani rasa malu atas dosa masa lalu adalah Jerman.

Dosa Masa Lalu

Sebenarnya bangsa Jerman layak bangga atas para putera terbaiknya semisal Bach, Beethoven, Brahms, Goethe, Schiller, Nietzche, Schopenhauer, Einstein sampai Beckenbauer. Namun gara-gara seorang bernama Adolf Hitler biadab membantai jutaan kaum Yahudi, maka setitik nila merusak susu sebelangga.


Bangsa Jerman terbebani rasa malu atas dosa Hitler di masa lalu sampai masa kini. Akibat terbebani rasa malu atas dosa masa lalu, maka Jerman sebagai bangsa beradab ingin menebus dosa masa dengan perbuatan baik di masa kini.

Dampak Positif


Secara pribadi saya pernah merasakan dampak positif Malumologi Jerman di masa saya studi kemudian mengajar di Jerman pada dasawarsa 70an abad XX.

Meski anak-anak Jerman gemar memanggil saya "sing song" sambil menarik kedua belah kelopak mata ke arah atas demi menimbulkan kesan mata sipit namun kaum dewasa Jerman selalu berupaya memperlakukan saya secara ramah-tamah.

Justru akibat saya warga asing yang jelas non-pribumi Jerman, pihak pemerintah Jerman malah bersikap diskriminatif positif cenderung menganak-emaskan saya dengan antara lain memberi beasiswa .

Toleransi


Bahkan kemudian pemerintah Jerman bersikap ilegal. Meski pada paspor jelas resmi terstempel ijin tinggal hanya untuk studi bukan untuk bekerja namun pemerintah Jerman malah melanggar hukum dengan resmi mengangkat saya menjadi Staatsangestelte alias pegawai negeri di departemen pendidikan sebagai tenaga pengajar, dosen tamu bahkan kepala guru di sekolah musik Jerman.

Akibat terbebani rasa malu atas dosa Hitler sebagai maharasis maka bangsa Jerman takut dituduh rasis sehingga memperlakukan para warga asing beda ras dengan warga Jerman dengan cara yang istimewa dalam arti positif dan konstruktif.

Malumologi Jerman tercermin jelas pada kenyataan bahwa Jerman di bawah pimpinan kanselir Angela "Mama" Merkel menjadi negara paling toleran terhadap kaum pengungsi di Eropa masa kini. Akibat rasa malu, maka Jerman mengubah diri dari bangsa paling biadab menjadi bangsa paling beradab.

Peradaban

Malumologi Jerman merupakan fakta tak terbantahkan bahwa rasa malu pada hakikatnya merupakan suatu unsur peradaban yang mandraguna didayagunakan sebagai kendali akhlak demi menjaga manusia senantiasa menghindari sikap dan perilaku tidak adil, tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan.

Apabila didayagunakan selaras dengan sukma adiluhur yang terkandung pada falsafah OJO DUMEH maka rasa malu merupakan bekal utama umat manusia dalam menempuh perjalanan peradaban sarat kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah di alam semesta ini.

Penulis adalah pendiri pusat studi Malumologi

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya