Berita

Foto/Ist

Nusantara

Ketua ISKA: Indonesia Butuh Orang Integritas Yang Tidak Asal Bicara

SENIN, 13 AGUSTUS 2018 | 05:25 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemuda Katolik harus belajar sejarah, karena dari situlah semangat organisasi pemuda katolik didirikan dan tetap akan menyala.

Begitu kata Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) AM Putut Prabantoro saat menjadi pembicara dalam acara pertemuan para kader pemuda Katolik dari Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Lampung, beberapa waktu lalu.

Menurutnya organisasi yang didirikan 15 November 1945 harus terus menggelorakan semangat juang untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan didirikannya negara Indonesia.


Untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara Indonesia, pemuda Katolik tidak bisa berdiri sendiri dan harus bekerjasama dengan semua pihak.

"Tidak penting apakah kelak akan menjadi orang penting atau pejabat, namun yang harus dipahami kalian berkarya bukan untuk kekuasaan tetapi untuk mewujudkan cita-cita dan mencapai tujuan didirikannya negara Indonesia ini," ujar Putut.

Putut juga mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan orang yang memiliki integritas, yang tidak asal berbicara, asal berdebat. Indonesia membutuhkan pemikir yang memiliki rasionalitas dalam berbicara agar tidak menimbulkan hoax.

Oleh karena itu, sambung Putut, sebagai organisasi pemuda Katolik harus memperkuat bidang litbang dan menguasai kemajuan teknologi informasi.

"Berbicaralah menggunakan data yang benar. Data salah, cara menganalisanya benar, hasilnya tetap salah. Data benar, cara menganalisasnya salah, hasilnya masih salah. Yang benar adalah, data yang digunakan valid dan benar, cara pengambilan analisanya juga benar. Hasil dari kajian tersebut bisa diserahkan kepada pemerintah sebagai sumbangsih," jelas Putut.

Sementara itu Romo Y. Kurniawan Jati yang juga sebagai pembicara mengatakan seluruh ormas Katolik termasuk pemuda Katolik, harus memperjuangkan kepentingan masyarakat, rakyat dan umum.

Ada dua perjuangan yang harus dilakukan oleh pemuda Katolik untuk menegaskan bahwa kaum muda adalah generasi perubah. Pertama adalah perjuangan pembangunan martabat manusia dan kedua adalah perjuangan perwujudan keadilan sosial.

Perjuangan pembangunan martabat manusia meliputi upaya terpenuhinya hak dasar, anti korupsi dan menjadikan bumi sebagai rumah bersama.  

"Bumi adalah ibu kehidupan seluruh manusia tanpa membedakan agama, suku ataupun ras. Maka setiap warga negara harus menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama.  Perjuangan kedua adalah perjuangkan terwujudnya keadilan sosial termasuk di dalamnya ikut mewujudkan kesejahteraan umum, membela kaum tertindak, yang kecil, lemah, miskin, perempuan serta anak-anak dan  mereka yang terbaikan," ujar Kurniawan.

Namun untuk mampu berjuang, kata Kurniawan, tidaklah mudah. Sebab setiap anggota organisasi  harus memiliki cara berpikir yang terbuka, inklusif, inovatif dan transformatif.

Cara berpikir yang sempit, tertutup dan bersikap menang sendiri hanya akan membuat dan menjadikan orang lain kerdil dan bodoh.  

Terlebih dengan kemajuan teknologi informasi termasuk medsos, cara berpikir sempit, tertutup dan bersikap menang sendiri akan mendapat tantangan dari pihak lain yang memiliki pemikiran berbeda.  

"Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi konsensus karena para pendiri bangsa serta negara pada waktu itu memiliki cara berpikir yang terbuka, tidak sempit dan tidak ingin menang sendiri. Sudah semestinya, para generasi penerus juga membuka diri atas perubahan yang terjadi dengan tetap berpijak pada empat konsensus dasar nasional tersebut," ujar alumnus Lemhannas RI PPRA LVI itu.

Dalam Komda Provinsi Lampung ada empat prinsip yang harus dipegang agar pemuda Katolik menjadi ormas yang berbuah bagi masyarakat dan bermartabat karena berintegritas.

Keempat hal itu adalah konsisten cara berpikir, cara berkerja, cara berelasi dan dalam perubahan perilaku menuju kesempurnaan.

Untuk berbuah bagi masyarakat, pemuda Katolik harus memegang teguh dan bahkan menjadi garda terdepan empat konsensus dasar nasional yakni, Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD NRI 1945.

Empat konsensus dasar itu merupakan hasil pemikiran para pendiri bangsa yang disarikan dari nilai-nilai luhur bangsa. Namun sebagai ormas, pemuda Katolik tidak dapat berjalan sendiri tetapi harus bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan termasuk, pemuka agama, TNI-Polri, pelaku usaha, ormas lain dan pengambil keputusan. [nes]


Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Aneh Sekali! Legalisir Ijazah Jokowi Tanpa Tanggal, Bulan, dan Tahun

Jumat, 13 Februari 2026 | 02:07

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Alpriado Osmond Mangkir, Sidang Mediasi di PN Tangerang Ditunda

Senin, 23 Februari 2026 | 16:17

Dasco Minta Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India Ditunda

Senin, 23 Februari 2026 | 16:08

Tiongkok Desak AS Batalkan Tarif Trump Usai Putusan MA

Senin, 23 Februari 2026 | 16:02

SBY Beri Wejangan Geopolitik ke Peserta Pendidikan Lemhannas

Senin, 23 Februari 2026 | 15:55

Subsidi untuk Pertamina dan PLN Senilai Rp27 Triliun Segera Cair

Senin, 23 Februari 2026 | 15:53

Putaran Ketiga Perundingan Nuklir Iran-AS Bakal Digelar 26 Februari di Jenewa

Senin, 23 Februari 2026 | 15:42

KPK Buka Peluang Panggil OSO Terkait Fasilitas Jet Pribadi Menag

Senin, 23 Februari 2026 | 15:38

Perjanjian Dagang RI-AS Jangan Korbankan Kedaulatan Data

Senin, 23 Februari 2026 | 15:24

Palguna Diadukan ke MKMK, DPR: Semua Pejabat Bisa Diawasi

Senin, 23 Februari 2026 | 15:24

Polisi Amankan 28 Orang Lewat Operasi Gakkum di Yahukimo

Senin, 23 Februari 2026 | 15:23

Selengkapnya