Berita

Fasisme/Net

Jaya Suprana

Kelirumologi Fasisme

RABU, 01 AGUSTUS 2018 | 06:56 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

FASISME merupakan suatu istilah ilmu politik yang di masa kini secara awam lebih kerap ditafsirkan ke arah negatif ketimbang positif padahal semula bebas nilai.

Definisi

Kata fasis berasal dari bahasa Italia: fascio dan bahasa Latin: fasces yang berarti sebuah ikatan tongkat melambangkan kekuatan persatuan. Sebuah tongkat mudah dipatahkan tetapi beberapa tongkat yang diikat menjadi satu sangat sulit dipatahkan.


Para ilmuwan politik mencoba mendefinisikan fasisme dengan hasil saling beda satu dengan lainnya. Satu di antara sekian banyak defisini fasisme fokus pada tiga konsep yaitu  tujuan otoriter nasionalis fasisme terdiri dari anti-liberalisme, anti-komunisme dan anti-konservatisme; menghadirkan struktur ekonomi dengan mengubah hubungan sosial dalam masyarakat modern berdasar kebudayaan; serta estetika politik romantis simbolisme, mobilisasi massa, pandangan positif terhadap kekerasan dan promosi kultus kepemimpinan maskulinitas dan karismatik.

Ideologi


Roger Griffin menjelaskan fasisme sebagai jenis ideologi politik di berbagai permutasi bentuk palingenetik populis ultranationalisme".

Robert Paxton mengatakan bahwa fasisme adalah bentuk perilaku politik ditandai oleh obsesi keasyikan dengan penurunan komunitas, penghinaan, atau korban dan kultus-kultus kompensasi kesatuan, energi, dan kemurnian, di mana berbasis massa berkomitmen militan nasionalis, bekerja sama dengan elit tradisional, meninggalkan kebebasan dan mengejar dengan penebusan kekerasan dan tanpa pembatasan hukum etis atau tujuan pembersihan internal dan ekspansi eksternal".

Umberto Eco, Kevin Passmore,  John Weiss, Ian Adams menyebut rasisme sebagai komponen karakteristik fasisme, misalnya bagaimana diktator fasistik Adolf Hitler membangun masyarakat Jerman sebagai ras bersatu dan hirarki terorganisir Volksgemeinschaft .

Filsafat fasis bervariasi berdasar aplikasi oleh satu kesamaan teori. Semua pandangan tradisional jatuh ke sektor kanan spektrum politik, dikatalisis oleh identitas penderitaan kelas akibat ketidakadilan sosial .

John Lukacs, sejarawan Amerika mewakili para korban Holocaust yang selamat, berpendapat bahwa tidak ada  generik fasisme. Ia mengklaim pada dasarnya fasisme adalah manifestasi dari gerakan populisme dan semangat kebangkitan nasional negara-negara seperti Jerman dan Italia yang sebenarnya lebih saling berbeda daripada serupa satu dengan lainnya.

Inflasi Makna

Fasisme mengalami inflasi makna akibat kebetulan aliansi Jerman Adolf Hitler dengan Italia Benito Mussolini kalah perang melawan sekutu Amerika Serikat - Inggris - Prancis - Rusia sehingga sejarah ditulis oleh pemenang yang menghujat pihak yang kalah sebagai kaum fasis.

Masyarakat  politik gemar menggunakan istilah fasis  sebagai kata hujat demi merendahkan harkat dan martabat pihak lawan politik. Direktur FBI, J. Edgar Hoover mencaci maki mereka yang dituduh komunis (termasuk Charlie Chaplin) dengan hujatan “Fasis Merah”.

Wajar bahwa Stalin, Fidel Castro , Ho Chi Minh , Kim Il Sung , Khrushchev , Putin distempel fasis oleh Amerika Serikat, tokoh fasisme termutakhir versi Donald Trump adalah Kim Jong Un namun sebaliknya tokoh fasis menurut Kim adalah Trump sebelum mereka berdamai di Singapura.

Rezim Soekarno disebut fasis oleh para pejuang Orde Baru kemudian rezim Soeharto disebut fasis oleh para pendukung Orde Reformasi.

Tampaknya fasisme  mengalami evolusi inflasi makna senasib istilah-istilah politik lainnya seperti machiavellisme, utopianisme, sosialisme , radikalisme, nasionalisme, populisme yang kaprah digunakan sebagai kata hujat demi merendahkan para lawan politik. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi


Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya