Berita

Jaya Suprana

Hujan Ikan Di Thailand

SABTU, 28 JULI 2018 | 09:42 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MUNGKIN demi mengalihkan perhatian publik jangan terlalu tersedot habis ke arah Piala Dunia maka pada awal bulan Juli 2018 mendadak terviralkan sebuah video lewat Youtube menampilkan adegan peristiwa hujan ikan di Thailand.

Hujan Ikan

Pada video tersebut tampak jelas ribuan ikan bergeleparan di atas permukaan jalan raya dalam kondisi masih basah kuyup akibat baru saja selesai hujan deras yang konon terjadi di Thailand tanpa kejelasan di kota mana.


Andaikata video itu hoax tetap saja masih menakjubkan sebab dibutuhkan ketrampilan teknologi edit video yang cukup menakjubkan sekelas Star War untuk mampu menampilkan adegan sedemikian meyakinkan.

Terdapat berbagai penjelasan terhadap fenomena hujan bukan air namun satwa yang tidak bisa terbang. Yang paling masuk di akal adalah para ikan terbawa pusaran badai puting beliung naik ke angkasa lalu jatuh ke daratan.

Singapura

Terlepas hoax atau tidak, sebenarnya telah kerap kali terjadi hujan ikan di berbagai pelosok planet bumi masa kini.

Hujan ikan termutakhir terjadi adalah pada tanggal 3 April 2018 di Golpayegan, Iran. Sebelumnya setelah suatu hujan deras, ribuan ikan menggelepar di jalan raya Jaffna, Sri Lanka 7 November 2017 dan juga di Oroville, California, 16 May 2017.

Peristiwa yang sama juga pernah terjadi Kanada, Australia, Nepal, India, Honduras, Ethiopia dan yang terdekat dengan Indonesia adalah Singapura pada abad XIX menurut catatan kaum kolonialis Inggris tepatnya pada tanggal 22 Februari 1861.

Hujan Kodok

Di samping ikan ternyata terjadi pula hujan satwa jenis lain yaitu hujan kodok di prefektur Ishikawa, Jepang sepanjang bulan Juni 2009, lalu di Rákóczifalva, Hungary, pada tanggal 18 dan 20 Juni 2010 dan dua kali pada tahun 2011 di  Cabo Polonio, Uruguay.

Jika terbukti bahwa di Jepang, Hungaria, Uruguay bisa turun hujan kodok maka sebenarnya tidaklah terlalu mustahil bahwa pada suatu saat di Jakarta akan turun hujan kecebong. [***]

Penulis adalah pembelajar fenomena alam

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Seriuskah Kemdiktisaintek Menjaga Mutu Pendidikan Tinggi

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:22

Anggota Dewan Etik Golkar Diduga Terlibat Dugaan Penipuan Miliaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:11

Membangun Kemandirian Energi Desa Melalui Penguatan Kapasitas Local Hero

Selasa, 11 Agustus 2026 | 00:05

Pertamina Perkuat Kemitraan Strategis Lewat SRM Summit 2026

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:31

Kerja Sama KSPSI-UT Perluas Kesempatan Pekerja Raih Pendidikan Tinggi

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:17

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PTPN IV PalmCo Fasilitasi APRC 2026, Perputaran Ekonomi Masyarakat Meningkat

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:58

Isu Wamenhan Baru Jangan Terjebak Kepentingan Bisnis dan Korporasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:55

Paroki Kraksaan Menanti Kejelasan

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:32

Pramono-Erick Thohir Godok Persiapan FIFA ASEAN Cup di Jakarta

Senin, 10 Agustus 2026 | 22:24

Selengkapnya