Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kemajuan Teknologi Dan Kemunduran Peradaban

KAMIS, 26 JULI 2018 | 06:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DENGAN judul profokatif, 'I felt disgusted': inside Indonesia's fake Twitter account factories' ('Saya muak: di  pabrik akun twitter palsu Indonesia') reporter The Guardian, Kate Lamb membongkar rahasia dapur para pembunuh karakter bayaran lewat medsos yang disewa para pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Perang Cyber

Dalam reportase yang dimuat The Guardian 23 Juli 2018, terkisahkan Alex (nama samaran) di sebuah kafe di Jakarta mengaku dirinya bersama laskar pembunuh karakter bayaran memiliki akun-akun palsu bukan untuk bersenang-senang namun untuk melakukan perang siber melawan para lawan politik Ahok.

"Ketika Anda berada di perang maka Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan. Tapi kadang-kadang aku merasa muak dengan diriku sendiri."

"Ketika Anda berada di perang maka Anda menggunakan apa pun yang tersedia untuk menyerang lawan. Tapi kadang-kadang aku merasa muak dengan diriku sendiri."

Kemudian Alex yang namanya terus menerus berubah demi melindungi identitas asli diri, lanjut membuka rahasia dapur "Mereka memberitahu kami masing-masing harus memiliki minimal lima akun Facebook, lima akun Twitter dan satu Instagram. Dan mereka mengatakan kepada kami untuk melestarikan perang siber namun jangan memberitahu siapa pun tentang di mana kami bekerja."

Tim Alex terdiri dari para pendukung setia Ahok dan mahasiswa yang terpikat oleh bayaran sekitar $ 280 (Rp 4 juta) per bulan. Dengan bermarkas di sebuah rumah mewah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mereka ditugaskan melakukan perang cyber dengan setiap hari  posting 60-120 kali sehari membela Ahok serta membunuh karakter para lawan politik Ahok lewat akun palsu masing-masing.

Sengkuni

Kisah Alex merupakan fakta bahwa apa yang disebut sebagai media sosial yang di Indonesia termasuk paling merajalela di planet bumi masa kini telah melahirkan suatu bentuk perang baru yaitu perang siber.

Di samping itu medsos juga melahirkan suatu bentuk profesi baru yaitu profesi pembunuh karakter bayaran yang siap membunuh karakter siapa pun juga berdasar bayaran.

Andaikata hidup di masa kini, pasti Sengkuni menyewa pembunuh karakter bayaran lewat medsos demi memfitnah Pandawa Lima.

Pembunuhan karakter lewat perang siber di medsos pada satu sisi merupakan kemajuan teknologi sangat membanggakan mereka yang memberhalakan teknologi namun di sisi lain merupakan citra kemunduran peradaban sangat memprihatinkan mereka yang masih percaya pada nilai-nilai kemanusiaan. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya