Berita

Sumanto Al Qurtuby/Net

Politik

Mengapa Intoleransi Dan Kekerasan Berkembang Di Indonesia?

JUMAT, 06 JULI 2018 | 16:03 WIB | LAPORAN:

Kesalahan dalam memandang dan menerapkan Islam sebagai ajaran agama menyebabkan berkembangnya paham-paham intoleran dan radikal yang berujung pada maraknya aksi kekerasan dan terorisme.

Untuk itu, perlu edukasi bahwa paham-paham intoleran dan kekerasan tidak sesuai dengan ajaran agama manapun dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang tertuang dalam butir-butir Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara Indonesia.

Pakar antropologi budaya dan pengajar di King Fahd University for Petroleum and Minerals Arab Saudi, Profesor Sumanto Al Qurtuby berpendapat, berkembangnya intoleransi dan kekerasan di Indonesia karena umat Islam cenderung tidak bisa membedakan antara Islam sebagai sebuah ajaran normatif, dengan Islam sebagai  manifestasi kebudayaan dan produk politik kekuasaan.


"Dalam praktik sehari-hari ada kecenderungan umat Islam yang mencampuradukkan antara Islam sebagai sebuah ajaran, Islam sebagai sebuah produk politik kekuasaan dan Islam sebagai manifestasi kebudayaan Arab. Ajaran dijadikan sebagai budaya sementara budaya dijadikan ajaran," kata Sumanto di sela-sela acara diskusi “Islam Rahmatan Lil Alamin: Antara Ajaran dan Budaya” yang diselenggarakan Lingkar Perempuan Nusantara (LPN) di Jakarta.

Sumanto menilai, umat Islam di Indonesia sebaiknya memisahkan Islam sebagai ajaran agama, dengan politik kekuasaan dan kebudayaan dari luar khususnya Arab, yang belum tentu sesuai dengan konteks ke-Indonesia-an. Selama umat Islam Indonesia tidak bisa membedakan ketiga hal tersebut, maka Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) sulit terwujud.    

"Produk-produk sosial budaya dari Arab jangan diimpor ke sini sebab itu bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat. Contohnya soal cadar, yang belakangan marak digunakan perempuan Indonesia," ucapnya.

Sumanto memaparkan, hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya masyarakat yang mengagumi Arab) terbilang unik. Dalam kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini ada kecenderungan menyerap budaya Arab dan anti Barat. Sementara Arab justru kini banyak menyerap budaya barat.

"Hampir semua produk-produk Barat mulai dari restoran fast food, hingga  produk-produk berkelas dan bermerk, semua ada di kawasan Teluk. Mal-mal megah dibangun untuk menampung produk-produk Barat tadi. Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping," paparnya.

Sumanto juga menyinggung semangat modernisasi dalam bidang sosial keagamaan di Arab Saudi dan negara-negara Teluk harus jadi contoh umat Islam di Indonesia jika ingin mewujudkan Islam rahmatan lil alamin. Saat ini, di Timur Tengah sedang gencar modernisasi Islam sebagai kekuatan jalan tengah (moderat), bukan Islam yang radikal maupun ultra liberal.

"Seharusnya Islam moderat ini ditiru umat Islam di Indonesia. Akan tetapi yang terjadi di Indonesia, di satu sisi umat Islam menjadi kelompok yang ekstrem, radikal, intoleran, dan tidak menghargai keberagaman dan kebhinekaan. Di sisi lain, ada kelompok ultra liberal yang tidak menghormati dimensi fundamental Islam itu sendiri," ujarnya.

Sumanto juga menyoroti peran perempuan dalam menangkal paham intoleran, radikalisme, dan terorisme. Menurut dia, perempuan harus ikut aktif menjadi penggerak utama toleransi dan memerangi praktik-praktik intoleran dan radikalisme.

Di Arab Saudi dan Arab Teluk, kata dia, kaum perempuan turut terlibat dalam memerangi gerakan ekstremisme dan kontra terorisme melalui program-program pemerintah.

"Di Indonesia, perempuan juga harus turut terlibat aktif sebagai motor penggerak pluralisme dan kebangsaan," ucap Sumanto.

Ketua Lingkar Perempuan Nusantara LPN Cherly Sriwidjaja mengatakan, pengaruh ajaran keagamaan garis keras yang menimbulkan penyimpangan-penyimpangan dalam pola pikir masyarakat dinilai sudah sangat mengkhawatirkan.

"Ajaran-ajaran yang disusupi oleh paham-paham kekerasan dan bibit-bibit radikalisme telah meresahkan dan mengganggu kestabilan situasi dalam negeri terutama di bidang politik, hukum dan keamanan," katanya melalui keterangan tertulis di Jakarta.  

Dia melanjutkan, hal ini terjadi karena sebagian masyarakat salah dalam mempersepsikan negara Arab Saudi dan bangsa Arab yang dijadikan panutan oleh kelompok-kelompok Islam di Tanah Air. [wid]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya