Berita

Stephanus Abraham Blok, Suhardi Alius, dan I Gusti Wesaka Puja/Humas BNPT

Pertahanan

Menlu Belanda Terkesan Deradikalisme Di Yayasan Bentukan Mantan Teroris

KAMIS, 05 JULI 2018 | 07:56 WIB | LAPORAN:

Cara-cara lunak (soft approach) yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam menangani mantan teroris mendapat banyak apresiasi dari negara-negara di dunia.

Bahkan tidak hanya apresiasi, banyak negara yang ingin belajar ilmu tersebut untuk diterapkan di negaranya masing-masing.

Salah satunya Belanda. Tidak hanya melalui Badan Anti Teror Belanda (NCTV), Kerajaan Belanda langsung mengutus Menteri Luar Negeri Stephanus Abraham Blok untuk datang langsung ke Indonesia dan belajar deradikalisasi lunak ala BNPT. Itu terjadi saat Menlu Belanda mengunjungi Yayasan Lingkar Perdamaian bentukan kakak beradik mantan teroris, Ali Imron dan Ali Fauzi di Desa Tenggulung, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, kemarin (Rabu, 4/7).


"Indonesia memiliki banyak pengalaman terkait penanganan terorisme karena beberapa kali mengalami serangan bom. Kami (Belanda) juga memiliki masalah sama dengan banyaknya warga kami pergi ke Suriah dan sekarang kembali pulang," ujar Menlu Belanda Stephanus Abraham Blok di sela-sela kunjungan.

Setelah pulang, lanjut Menlu, para returness itu tentunya akan menjalani proses hukum. Tapi setelah menjalani hukuman, mereka harus kembali ke masyarakat. Selama ini, Belanda hanya fokus melakukan tindakan keras melalui hukum sehingga mereka merasa perlu belajar dari Indonesia.
 
Menurut Blok, Belanda ingin para warganya yang pernah terpapar paham sesat itu nantinya bisa hidup normal. Selain itu, Belanda juga ingin mencegah mereka menyebarkan paham radikal terorismenya ke orang lain.

"Makanya kami kemari untuk melihat apa yang dicapai ustadz Ali Fauzi dengan sekolah dan yayasannya. Saya sangat terkesan karena seumur-umur tidak pernah membayangkan bisa berjabat tangan dengan banyak mantan teroris di sini. Ini luar biasa dan saya sangat mengapresiasi cara Indonesia memperlakukan mereka," tutur Blok.

Ia sadar pemerintah tidak bisa efektif melakukan penanganan terorisme hanya dengan lewat jalur hukum. Tapi ada cara yang lebih baik dan manusiawi dengan mendidik anak-anak mereka agar masa depannya lebih baik.

"Indonesia telah memberikan teladan kepada dunia, bagaimana melakukan cara-cara lunak dan berperikemanusiaan itu. Ini akan kami contoh dan kami terapkan di Belanda," tegas Blok.


Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius menjelaskan, kunjungan Blok ini bukan upaya pertama Belanda belajar deradikalisasi ala Indonesia. Sebelumnya Badan Kontra Teroris Belanda (NCTV) telah melakukan hal yang sama di pesantren mantan teroris yang didiirikan Khairul Ghazali di Deliserdang, Sumatera Utara.

"Artinya kita punya satu visi bahwa menyelesaikan terorisme tidak bisa dengan cara-cara keras, tapi juga dengan cara lunak. Bagaimana mengembalikan mereka ke masyarakat dengan baik, jangan dimarginalkan, dan diberi kesempatan untuk menjadi orang yang baik baik di masa mendatang," tutur Komjen Suhardi sebagaimana keterangan tertulis BNPT.

Secara umum, Komjen Suhardi menjelaskan bahwa selain Yayasan Lingkar Perdamaian dengan Islamic Boarding School-nya di Lamongan dan Pondok Pesantren Mantan Teroris di Deliserdang, BNPT tengah menjalankan program deradikalisasi dengan lebih baik lagi.

"Begitu berstatus napiter, BNPT langsung mengurus mereka. Begitu juga saat keluar penjara, kami juga terus mengurus mereka, termasuk keluarganya. Karena tidak mungkin, kita berasumsi mereka di dalam tahanan sudah tidak radikal lagi," kata Suhardi.
 
Pada kunjungan itu, Menlu Belanda didampingi Duta Besar (Dubes) Belanda untuk Indonesia Rob Swartbol dan Dubes Indonesia untuk Belanda, I Gusti Wesaka Puja. [wid]

 

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya