Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Kelirumologi Nama Makanan

KAMIS, 05 JULI 2018 | 07:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BERDASAR penelitian Pusat Studi Kelirumologi ditemukan fenomena kekeliruan pada berbagai nama makanan. Satu di antaranya adalah karya masakan berasal dari kebudayaan China yang cukup populer di Indonesia yang menggunakan daging satwa yang disebut sebagai kodok.

Amfibia

Berbagai menu rumah-makan mewah sampai layar warung kaki lima semarak menawarkan aneka hidangan dengan nama  Kodok-Goreng , Kodok-Kuah-Jahe, Kodok Asam Manis, Kodok Goreng Lapis Tepung, Oseng-Oseng Kodok, Kodok Saus Tirem, Rica-Rica Kodok, Sate Kodok, Pepesan Kodok, dan lain sebagainya.


Masakan kodok  itu cukup digemari akibat dagingnya memang putih-bersih, lezat rasanya plus empuk nikmat untuk dikunyah.

Namun sebenarnya, sebutan kodok itu sendiri adalah keliru! Bahan utama hidangan khas yang disajikan itu memang termasuk jenis amfibia, namun sebenarnya bukan kodok, melainkan katak. Menurut kaidah akademis biologi, meskipun sesama amfibia, namun katak (Ranidae) sebenarnya tidak sama dengan kodok (Bufonidae).

Kodok dengan kaki belakang relatif lebih pendek, postur lebih gembung, kulit lebih berkutil ketimbang katak, kurang layak dimakan manusia, akibat kulitnya mengandung zat beracun.

Sementara yang lebih aman, maka digemari, terutama bagian paha, sebagai makanan manusia adalah beberapa jenis katak seperti Katak Hijau, Katak Lembu, atau Katak Batu.

Namun nama kodok yang sebenarnya keliru  terlanjur kaprah digunakan masyarakat umum, ketimbang katak yang lebih benar. Dalam salah satu dialek bahasa China, masakan kodok, eh.. katak, disebut  swie-kee, yang di dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti ayam-air,  akibat daging katak memang putih bersih dan lezat mirip daging ayam.

Daging

Berbicara masalah daging, masyarakat berbahasa Jawa mengganti istilah daging menjadi ikan, yang berasal dari bahasa Jawa=iwak.

Maka muncul istilah aneh-aneh yang tidak lazim di ilmu biologi khususnya zoologi seperti  iwak-ayam, iwak-sapi, iwak-babi, iwan-kelinci atau ikan-sapi, ikan-ayam, ikan-babi dan seterusnya yang tentu tidak tercatat di buku pelajaran Ilmu Hayat manapun juga.

Sayang penggunaan istilah ikan tidak konsekuen dan tidak konsisten, karena daging-ikan tidak pernah disebut sebagai ikan-ikan! Mungkin hanya bahasa Jawa pula yang memiliki istilah untuk sisa daging atau iwak yang terselip di sela-sela gigi manusia seusai makan iwak yaitu selilit.

Amerika


Istilah hot-dog  juga tidak kalah membingungkan, karena pada kenyataannya bahan makanan populer berasal dari Amerika itu, sama sekali tidak ada kaitannya dengan ikan.. eh… daging-anjing apalagi yang panas atau pedas!

Istilah  hamburger  semula sama sekali tak dikenal di Jerman di mana kota pelabuhan termashur Hamburg itu berada (di Hamburg, Jerman bulatan daging cacah disebut Bullete atau Frikadelle yang di Indonesia disebut perkedel).

Hamburger berasal dari istilah fast-food Amerika Serikat, yang juga sama sekali tidak ada kaitannya dengan delapan (!) kota bernama Hamburg di wilayah USA (Arkansas, Connecticut , Illinois, Iowa, Michigan , New Jersey, New York, dan Pennsylvania ).

Hebatnya di Amerika Serikat malah ada Hamburger University yang didirikan dan dikelola oleh mahaperusahaan waralaba warung-makan-cepat-saji McDonald!  Istilah fast-food kemudian menghadirkan istilah lain yang berlawanan makna yaitu slow-food.

Sosis


Jerman termashur dengan berbagai jenis makanan yang disebut sebagai Wurst. Wurst dalam bahasa Indonesia disebut sebagai sosis yang mirip dengan lafal sebuah nama jenis makanan yang sama dalam bahasa Inggris: sausage.

Membingungkan, sejenis sosis berbahan daging-sapi di kota Frankfurt, Jerman,  disebut sebagai Wiener, sebaliknya di kota Wien (Wina), Austria, sendiri jenis sosis yang persis sama (hanya mungkin beda ukuran) malah disebut sebagai Frankfurter! Mirip namun tidak sama dengan nasib Sate Madura yang jauh lebih terkenal dan berkembang luas di Pulau Jawa, ketimbang di Pulau Madura sendiri. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi, yang bukan makan untuk hidup namun hidup untuk makan

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya