Berita

Ilustrasi/Net

Rumah Kaca

Cerpen: Penyesalan Kapten Bayu

SELASA, 03 JULI 2018 | 18:56 WIB

SUDAH setahun Bayu jatuh sakit. Untuk menyeret tubuhnya saja ia sulit. Sejak sakit, Bayu terpaksa  akrab dengan jarum suntik, obat-obatan, selang oksigen, dan ranjang putih. Ia tak lagi mampu memegang kemudi pesawat, berkomunikasi dengan pengatur lalu lintas udara, atau menyeret kopernya memasuki bandara lewat pintu VIP.

Wajahnya selalu tampak murung. Istrinya, Merry, tak lagi mau mengungkit-ungkit masalah yang menyebabkan Bayu stress hingga berujung stroke. Keras kepala Bayu sering mengurungkan niat Merry untuk mengingatkan Bayu ketika dianggap terlalu ambisius. Merry seperti tak ingin mengulang perdebatan mereka dulu, yang justru menjadi awal Bayu menjadi seorang pesakitan. Separuh badan Bayu kini tak lagi normal akibat serangan stroke dua belas bulan lalu.

"Kenapa harus ikut? Apa untungnya sih?"


"Ini demi solidaritas kepada teman-teman. Kamu nggak usah ikut campur."

Jawaban itulah yang membuat Merry kecewa. Dia tau, rasa solider Bayu kepada teman-temannya sangat tinggi, tak peduli walau mengorbankan pekerjaannya. Gaji besar dan fasilitas wah tak membuat Bayu  mundur selangkah pun.  

"Pokoknya, kamu diam saja," Bayu menghentikan perdebatan dengan Merry.

Meninggalkan kokpit pesawat dan ikut bergabung dalam serikat pekerja dilakoni Bayu tanpa beban sedikit pun. Ia seperti terbius, membayangkan perubahan di perusahaan maskapai tempatnya mengabdi sejak puluhan tahun silam. Terbawa mimpi bakal diangkat menjadi salah satu direksi, menyempurnakan gengsinya sebagai penerbang.

Tapi apa, Bayu salah duga. Perjuangan Bayu tak dihargai apa-apa. Pasca demo, satu demi satu teman-temannya menjauh. Belakangan, Bayu menyadari, teman-temannya bukan sedang berjuang untuk memperbaiki kodisi perusahaan, tetapi hanya mengincar jabatan atas iming-iming kompetitor. Bayu terjebak dalam permainan kotor para koleganya.

Isu perusahaan akan bangkrut hingga bakal dijual ke  perusahaan negara asing sengaja dihembuskan sebagai siasat para kolega atas perintah kompetitor  untuk menghancurkan perusahaan dari dalam.  Berbagai cara digunakan untuk menghancurkan perusahaan, termasuk menyebar berita bohong dan ancaman mogok kerja. Bayu sama sekali tidak sadar hingga merasa seperti pahlawan ketika ikut-ikutan mengancam  mogok kerja. Ternyata siasat itu hanyalah akal bulus yang justru menenggelamkan perusahaannya. Bangkrut dan akhirnya diambil-alih perusahaan kompetitor. Janji perusahaan kompetitor memberikan posisi direksi sebagai imbalan atas aksi mogok kerja, ternyata isapan jempol belaka. Jangankan menjadi direksi, bekerja sebagai pegawai biasa pun tidak diajak di perusahaan competitor.

Parahnya lagi, rekan-rekannya malah menuding Bayu menghalang-halangi perusahaan kompetitor untuk menepati janji memberikan posisi penting di perusahaan. Bayu akhirnya dijauhi rekan-rekannya.

Bayu tak habis pikir mengapa teman-temannya menudingnya begitu, sementara ia sendiri juga dicampakkan oleh perusahaan sponsor aksi mogok.  Hatinya berkecamuk, marah dan dendam. Sayang, ia tak mampu mengontrol emosinya hingga jatuh stroke.

*

Subuh itu begitu dingin dan berkabut. Rinai gerimis turun pelan. Semerbak bau daun kamboja menebar, mengirimkan kesejukan bercampur kesuraman. Entah kebodohan atau kenekatan. Di pagi yang suram itu, Bayu meminta isterinya mendorong kursi roda yang ia tumpangi ke halaman. Dia menengadah, menghadapkan tangannya ke langit. Air matanya turun bersama air hujan.

"Aku keliru. Kalau saja mau mendengar nasehatmu, kita tidak begini. Maafkan aku, Merry,"  ujar Bayu terbata-bata.

Merry menyambutnya dengan senyum lembut.

"Yang penting kamu sembuh, Kapten Bayu".

"Bayu menangis saat Merry memanggilnya seperti itu. Sebuah panggilan yang sebetulnya ingin dia lupakan. Bayu merasa tak lagi pantas dipanggil "Kapten".[***]

Mulia Siregar
Wartawan senior

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya