Berita

Recep Tayyip Erdogan/Net

Politik

Mengkalkulasi Peluang Erdogan Untuk Tetap Menjadi Orang Kuat Turki

SABTU, 23 JUNI 2018 | 16:59 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SEJAK 2003, Recep Tayyip Erdogan yang akrab dipanggil dengan nama belakangnya Erdogan telah menjelma menjadi orang kuat Turki di era modern. Bahkan seorang pengamat Turki Alfan Alfian  menyebutnya lebih perkasa dari Kemal Ataturk sang pendiri Republik Turki modern.

Jika Ataturk membawa Turki dari negara religius menjadi negara sekuler, maka secara sistematis dan konsisten, Erdogan membawa Turki dari negara sekuler menjadi negara religius kembali.

Meskipun narasi yang dibangun Erdogan ingin mengembalikan kejayaan Turki sebagaimana pernah dicapai oleh Kesultanan Turki Usmani, akan tetapi Turki modern yang dicita-citakan Erdogan nampak berbeda.


Langkah Erdogan mengubah sistem pemerintahan Turki dari parlementer ke presidensiel, tampaknya merupakan langkah pembaharuan mutakhir yang dilakukannya untuk memastikan agendanya akan dapat dilaksanakan secara sempurna.

Selama ini, tidak mudah ia mempertahankan kekuasaannya, gangguan dan perlawanan sengit datang dari lawan-lawan politiknya warisan Ataturk baik dari kelompok militer, maupun kelompok politisi sekuler. Apakah karena keberuntungan atau karena kemampuannya dalam berpolitik, selama ini Erdogan selalu bisa menyelamatkan diri.

Kini ia harus menghadapi ujian berat berikutnya, yakni pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang dilakukan bersamaan untuk pertama kali setelah Referendum tahun lalu yang menyetujui perubahan sistem politik dari parlementer ke presidensiel.

Walaupun referendum memenangkan Erdogan akan tetapi tipisnya kemenangan yang diperoleh memunjukkan semakin merosotnya popularitasnya, atau mungkin saja semakin kuatnya atau semakin banyaknya lawan-lawan politiknya.

Merujuk pada sejumlah hasil servei yang dilakukan menjelang Pemilu yang akan dilaksanakan Minggu besok, maka AKP akan tetap menjadi partai terbesar. Akan tetapi diperkirakan AKP hanya akan menjadi mayoritas relatif bukan mayoritas mutlak, karena itu dalam pembentukan kabinet nanti AKP memerlukan koalisi.

Sementara dalam pilpres, Erdogan diperkirakan akan mampu mengalahkan capres lain, walau tidak mudah. Dengan kata lain, walaupun Erdogan akan memenangkan kontestasi pilpres, akan tetapi kemenangannya akan sangat tipis. Bahkan, sejumlah pengamat memperkirakan, bukan mustahil pilpres akan berlangsung dua putaran.

Melihat peta politik di atas, jika Erdogan keluar sebagai pemenang, maka ia berpeluang untuk menjadi Presiden Turki selama sepuluh tahun ke depan atau selama dua periode sesuai undang-undang baru hasil referendum.

Untuk menjamin terlaksananya agenda politiknya, ia harus mengubah gaya kepemimpinannya. Erdogan selama ini dinilai banyak pihak semakin otoriter.

Ia perlu merangkul kembali teman-teman lamanya yang ikut membantu mendirikan AKP seperti mantan Presiden Abdullah Gul dkk yang kini menjauhinya. Juga tokoh karismatik dan ulama berpengaruh Fethullah Gulen yang ikut membesarkan Erdogan dan AKP di awal kemunculannya.

Di luar pertarungan memperebutkan kursi di Parlemen dan jabatan Presiden, keputusan mengubah sistem parlementer menjadi presidensiel, dejatinya telah menimbulkan hikmah tak terduga yang mungkin saja tidak disadari oleh Erdogan dan tokoh-tokoh AKP yang kini berkuasa.

Dengan sistem baru, pertentangan ideologis antara kelompok sekuler dan religius menjadi mencair. Untuk kepentingan pragmatis, baik dalam mengejar kusrsi presiden maupun kursi parlemen, partai-partai yang ada dipaksa untuk berkoalisi. Apalagi parliamentary threshold di Turki terhitung tinggi, yakni 10%.

Sebagai contoh MHP yang sekuler berkoalisi dengan AKP yang religius dalam koalisi "Kerakyatan". Sementara Partai Saadet dan Partai Demokrat (DP) yang religius berkoalisi dengan CHP yang merupakan partai sekuler warisan Ataturk dalam koalisi "Keumatan".

Karena itu, di Turki kini sedang terjadi proses moderasi dari dua kutub ektrem sekuler dan religius sebagaimana di Indonesia. Situasi ini akan menjamin keberlangsungan demokrasi di Turki.

Indonesia jauh lebih beruntung dibanding Turki, karena proses moderasi dan saling mendekatnya dua kutub ideologi ini sudah berlangsung sejak 1945 ketika menyongsong kemerdekaan dan terus berlanjut sampai kini.

Kita perlu berdoa, semoga Turki sukses dalam eksperimennya,  agar Indonesia punya teman dan bisa saling berbagi pengalaman dalam menyongsong masa depan masing-masing. [***]

Penulis adalahDirektur Eksekutif Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Pabrik Bioetanol Bakal Diperbanyak, Pemerintah Siapkan Revisi Perpres 40

Selasa, 08 September 2026 | 18:19

BUK Migas Harus Lebih Gesit Kejar Investasi dan Lifting

Selasa, 08 September 2026 | 17:57

Menimbang Ulang Bencana

Selasa, 08 September 2026 | 17:41

Pemerintah Harus Antisipasi Kekeringan dan Gagal Panen akibat El Nino

Selasa, 08 September 2026 | 17:34

Purbaya soal Utang Whoosh Dicicil 80 Tahun: Kita Udah Mati, Santai Aja!

Selasa, 08 September 2026 | 17:23

KPK Panggil Anggota DPRD Hingga Pengurus Golkar Jateng di Kasus Bupati Pemalang

Selasa, 08 September 2026 | 17:14

Masa Jabatan Kapolri: Open Legal Policy atau Celah Subjektivitas?

Selasa, 08 September 2026 | 16:47

Rusia dan Korea Utara Buka Jembatan Darat Pertama di Perbatasan

Selasa, 08 September 2026 | 16:40

RUU Pemilu Jangan Keluar dari Filosofi Dasar Demokrasi

Selasa, 08 September 2026 | 16:34

Purbaya Curhat Suka Duka jadi Menkeu, Berat Badan Sempat Turun 14 Kg

Selasa, 08 September 2026 | 16:31

Selengkapnya