Berita

Wiranto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Wiranto: Jadi Anggota Dewan Keamanan PBB Bukan Hal Mudah, Butuh Perjuangan Luar Biasa

KAMIS, 21 JUNI 2018 | 09:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Indonesia terpilih menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) untuk periode 2019-2020. Indonesia terpilih setelah menang melawan Maladewa dalam pemungutan suara di Markas PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat (8/6). Indonesia berhasil meraih 144 suara sedangkan Maladewa hanya dapat 46 suara. Dengan kemenangan ini, Indonesia un­tuk keempat kalinya menjadi anggota DK PBB. Terpilihnya Indonesia mendapatkan sambu­tan beragam baik positif dan negatif. Bagaimana tanggapan pemerintah terhadap kritik serta besarnya harapan masyarakat atas terpilihnya Indonesia men­jadi Anggota Tidak Tetap DK PBB.

Berikut ini penuturkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto baru-baru ini.

Ada pihak memandang keterpilihan Indonesia men­jadi Anggota Tidak Tetap DK PBB bukan hal istimewa kar­ena sudah empat kali terpilih. Bagaimana tanggapan Anda?
Kita harus bersyukur karena Indonesia telah mendapat keper­cayaan dari dunia Internasional. Ini sebuah prestasi besar karena untuk menjadi Anggota DK PBB kan tidak mudah, membutuh­kan perjuangan yang sangat luar biasa untuk meyakinkan negara-negara lain untuk memi­lih Indonesia sebagai salah satu Anggota Tidak Tetap DK PBB.

Kita harus bersyukur karena Indonesia telah mendapat keper­cayaan dari dunia Internasional. Ini sebuah prestasi besar karena untuk menjadi Anggota DK PBB kan tidak mudah, membutuh­kan perjuangan yang sangat luar biasa untuk meyakinkan negara-negara lain untuk memi­lih Indonesia sebagai salah satu Anggota Tidak Tetap DK PBB.

Seberapa sulit prosesnya menjadi Anggota Tidak Tetap DK PBB?
Prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Ini buah politik dan diplomasi luar negeri yang panjang dan memerlukan dan sinergis antara Menteri Luar Negeri beserta jajarannya, para Duta Besar Indonesia, di seluruh dunia. Juga termasuk pejabat kementerian yang melakukan kunjungan ke negara-negara sahabat. Mereka semua selalu menyampaikan misi tersebut secara konsisten dan elegan.

Bagaimana dengan peran Kemenkopolhukam?
Kemenkopolhukam juga melakukan diplomasi dalam setiap kunjungan bilateral dan multilateral seperti ke India, Rusia, Myanmar, dan beberapa negara di Kepulauan Pasifik. Kami secara persuasif dan eleganselalu menyampaikan misi politik luar negeri agar Indonesia dapat menjadi menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Alhamdulillah kerja keras seluruh anggota Kabinet yang dimotori oleh Kementerian Luar Negeri akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan.

Apakah jabatan itu strategis untuk mendorong perdamaian dunia?

Kami tentu berharap Indonesia bisa berperan lebih untuk memberikan solusi terhadap berbagai konflik di dunia. Dan, sebelum menjadi Anggota tidak tetap DK PBB, kita selama ini sudah menunjukkan sikap se­cara konsisten dan bersungguh-sungguh ikut menjaga ketertiban dunia.

Kebijakan Presiden Joko Widodo selalu membuat kebijakan yang menempatkan Indonesia sebagai negara penengah, mem­buat Indonesia mendapatkan kepercayaan dari dunia inter­nasional.

Konflik apa yang sudah dan sedang ditangani Indonesia?
Konflik di Afganistan. Indonesia diminta mendamaikan konflik di sana. Menyelesaikan konflik di negara itu tidak mu­dah karena sudah berlangsung lama, 40 tahun. Tapi sejauh ini, Alhamdulillah, pihak-pihak yang berkonflik sangatlah positif terhadap kehadiran Indonesia.

Dan, sampai saat ini proses perdamaian sedang berproses. Selain itu, kami juga terlibat ak­tif dalam kegiatan kemanusiaan di Rakhine State yang sifatnya berkelanjutan, inklusif dan da­pat memberikan pemberdayaan kepada masyarakat setempat.

Bagaimana dengan ban­yaknya harapan masyarakat terhadap terpilihnya Indonesia menjadi DK tidak tetap PBB?

Pemerintah akan menjalankan amanah sesuai dengan amanah yang diatur dalam kontitusi kita. Saya harapkan semua komponen masyarakat harus bersatu padu memberikan du­kungan kepada pemerintah dalam rangka menjaga amanah dan kepercayaan yang diberi­kan dunia internasional kepada Indonesia. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya