Berita

Rizal Ramli/net

Bisnis

Indonesia Jadi Negara Maju Bukan Mission Impossible, Ini Strategi Rizal Ramli

SELASA, 12 JUNI 2018 | 22:29 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Indonesia akan kesulitan menjadi negara berpendapatan tinggi (higher income) atau negara maju pada 2030 karena pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai.

Itu dikatakan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, pekan lalu dalam sebuag diskusi publik di Jakarta. Bahkan ia mengatakan, adalah mission impossible bila Indonesia menjadi negara maju menggunakan proyeksi di BI memakai pendekatan supply side.

Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5,6 persen, Indonesia diprediksi bisa naik level dengan pendapatan per kapita di atas 10 ribu pada 2045. Sementara pada 2017 lalu, pendapatan per kapita Indonesia baru mencapai 3876 dolar AS. Indonesia bisa naik level lebih cepat jika pertumbuhan ekonomi bisa diupayakan jadi lebih tinggi yaitu mencapai 6,4 persen. Hanya saja, Indonesia harus bekerja sangat keras, kontribusi sumber daya manusia terhadap perekonomian dan rasio investasi riil ditingkatkan.


Pernyataan ini dapat dibantah dengan cara yang pernah ekonom senior, Rizal Ramli, sampaikan di berbagai forum. Rizal mengatakan, kalau berbicara masa depan maka apapun bisa terjadi yaitu positif atau negatif. Yang mengerti ilmu ini melakukan apa yang disebut simulasi.

Ia memberi contoh, pada November 1996, Rizal Ramli sebagai chairman Econit memberi laporan setebal 200 halaman bahwa Indonesia akan alami krisis ekonomi besar pada 1997-98. Namun dibantah menteri keuengan dan gubernur bank sentra padahal indikasinya sederhana yaitu current deficit BI sudah begitu besar dan akan membuat rupiah anjlok. Kemudian, utang swasta sudah "keterlaluan". BI dan departemen keuangan tidak memiliki data itu sehingga bisa terjadi rush luar biasa. Semua yang pihaknya ramalkan itu akhirnya terjadi pada 97-98. Ada kalangan pengusaha yang mengikuti nasihat pihaknya, akhirnya banknya selamat. Yang terlalu pecaya diri karena punya banyak hubungan kekuasaan, akhirnya rontok.

Ia mengatakan, ini kesempatan bagus untuk melihat seperti apa Indonesia di tahun 2030 dan tahun 2050. Jawabannya bisa positif bisa negatif. Tapi yang ia sayangkan level pembahasan yang tidak intelek. Semua di-frame dalam konteks politik misalnya Jokowi vs Prabowo. Padahal yang bisa dilakukan adalah analisa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman apa saja yang akan terjadi. Yang dibahas adalah konten dan asumsi.

"Anda harus berdebat pada asumsi bukan personality," kata Rizal suatu waktu .

Memang Indonesia harus bangga karena GDP mencapai 1 triliun dolar AS. Tapi kalau dibagi 260 juta penduduk hanya mendapat sekitar 3600 dolar AS. Indonesia terendah dibandingkan Malaysia, Thailand atau Singapura. Selain besarnya GDP, yang juga lebih penting adalah tingkat pendapatan dan kesejahteraan.

GDP Indonesia diperkirakan naik menjadi 2,5 triliun dolar AS pada 2030. Tapi untuk bisa seperti itu, asumsinya adalah Indonesia tumbuh 9 persen selama 12 tahun. Faktanya, selama ini Indonesia hanya tumbuh 5 persen alias stagnan. Hari ini Indonesia ada di ranking 16 dalam hal GDP. Tapi, kalau bisa tumbuh 9 persen selama 12 tahun, GDP Indonesia naik dua setengah kali, dan naik ke ranking 11.

Pertanyaannya menurut Rizal, kenapa Indonesia mandek? Cara untuk keluar dari kemandekan itu adalah harus tinggalkan kebijakan makro ekonomi yang super konservatif yang sudah terbukti gagal di seluruh dunia.

"Harus ada kebijakan makro ekonomi yang kreatif dan inovatif. Kalau itu kita lakukan saya percaya ekonomi Indonesia dari 2019 ke 2024 bisa tumbuh di atas 10 persen rata-rata, sehingga pendapatan rakyat bisa naik ke 7500 dolar AS.

Indonesia tidak bisa menjadi raksasa ekonomi karena model ekonominya neoliberal yang hanya bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi paling maksimum 6 persen, itupun dengan utang.

Ia juga berbicara tentang fakta demokrasi kriminal di Indonesia. Buktinya sederhana yaitu 300 dari 352 bupati dipenjara, setengah dari gubernur dipenjara, ratusan anggota DPR dipenjara karena kasus korupsi. Ia tegaskan, demokrasi kriminal hanya menyejahterakan para elite.

"Kita harus bangun demokrasi yang membawa kemakmuran. Demokrasi kriminal yang terjadi sekarang membebaskan partai politik mendapatkan dana dari mana saja. Saatnya partai dibiayai negara supaya lebih akuntabel, kita ubah menjadi menjadi demokrasi amanah sehingga membawa kemakmuran," katanya.

Yang juga pasti ia lakukan agar Indonesia menjadi negara maju adalah mengubah model ekonomi yang terlalu kanan (koservatif) kembali ke konstitusi, menjadi lebih ke tengah. Sehingga, Indonesia akan tumbuh 10 persen dalam waktu lima tahun. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya