Berita

Foto: Ist

Nusantara

Mensos: Rara Bukti Keterbatasan Ekonomi Tak Hambat Mimpi

SENIN, 11 JUNI 2018 | 17:28 WIB | LAPORAN:

Lebaran 2018 akan sangat berbeda bagi Tiara Ramadani (17) dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemenang Juara Dua Kones menyanyi dangdut Liga Dangdut Indonesia (LIDA) ini mengaku akan mudik ke kampung halaman di Kelurahan Sukajadi Kecamatan Prabumulih timur Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.

"Inshaa allah mudik, tapi tidak bisa lama. Hari pertama lebaran di rumah, hari kedua sudah harus kermbali bekerja karena ada jadwal manggung di Pontianak," katanya saat ditemui menjelang penampilannya di salah satu televisi di Jakarta, baru-baru ini.

Sulung dari dua bersaudara ini mengaku sudah tak sabar ingin pulang kampung. Hal ini karena sepanjang Ramadan ini dihabiskannya di Jakarta untuk tampil di televisi. Untuk mudik, ia sudah menyiapkan sejumlah uang untuk dibagi-bagikan kepada orangtua, adik, dan saudara-saudaranya.


"Ya seperti THR ya. kalau dulu kan Rara yang terima dari saudara-saudara. Sekarang kan Rara sudah bekerja, sudah ada penghasilan. Jadi sepertinya sekarang kebalikannya," kata dia sambil tertawa.

Rara adalah anak pertama dari dua bersaudara pasangan almarhum Abdul Rohim (67 tahun) dan Tapyati (46 tahun). Ibu Rara, Tapyati merupakan salah satu penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

PKH adalah program bantuan sosial non tunai bersyarat yang diberikan Kementerian Sosial kepada kepada keluaga dan atau seseorang yang miskin dan rentan miskin, yang terdaftar dalam data terpadu program penanganan fakir miskin.

Rara adalah salah satu anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH yang mendapat penghargaan dari Kementerian Sosial karena berbagai prestasi yang diraihnya. Sejak tahun 2011 hingga 2017 Rara dan tim seni Kota Prabumulih Juara 1 umum Festival Sriwijaya.

Tak hanya itu dia juga menyabet Juara 1 Lomba Teater Monolog Tingkat Nasional dan Juara 1 Menyanyi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi.

Sebelum memenangkan kontes LIDA, kondisi ekonomi keluarga Rara sangat terbatas. Sejak ayah Rara meninggal, Tapyati menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Tapyati bekerja sebagai buruh cuci dan menjual gorengan keliling setiap pagi. Ia juga pernah menjadi pemulung.

Rara memiliki seorang adik laki-laki bernama Arya Saputra (15). Menjelang lebaran, Rara memboyong ibu dan adiknya ke Jakarta untuk menemaninya menyanyi dan tinggal bersama di sebuah apartemen di bilangan Jakarta Barat.

"Ramadan tahun ini beda banget rasanya karena tahun lalu kegiatannya hanya di rumah dan sekolah. Puasanya bareng keluarga. Sekarang puasa di Jakarta sambil kerja. Di tempat baru ini Rara harus adaptasi dengan suasana baru dan teman-teman baru," katanya.

Rara menjelaskan, saat hari pertama Ramadan tahun ini ia mendapat libur untuk pulang ke kampung halaman. Ia ingin merasakan puasa hari pertama bersama ibu dan adiknya, serta melihat rumahnya yang telah direnovasi.

"Alhamdulillah puasa hari pertama boleh libur dan pulang sekalian lihat rumah selesai dibedah. Rumah penuh banget, banyak yang datang menyambut dan memberi selamat," kata dia.

Namun demikian, di balik senyum dan tawanya menyambut Lebaran, Rara sedikit sedih karena teringat sang ayah yang telah meninggal dunia. Pria yang mengajarkannya bermain gitar dan bernyanyi ini, diakui Rara adalah sosok yang sangat penting dalam karirnya.

"Impian saya adalah membahagiakan kedua orangtua. Khususnya ayah yang selama hidupnya ingin melihat Rara sukses meraih cita-cita menjadi penyanyi," ucapnya.

Sementara itu Menteri Sosial Idrus Marham mengatakan prestasi yang diraih Rara sangat membanggakan. Rara menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak membatasi impiannya untuk berkarya di bidang seni.

"Kisah Rara dan Ibu Tapyati semoga menginspirasi ribuan ibu-ibu penerima PKH di seluruh Indonesia agar mendorong anak-anak PKH juga terus mengukir prestasi," katanya.

Idrus selalu memberi dukungan kepada Rara saat berlaga di LIDA. Kata dia, dalam penyaluran PKH, pemerintah tidak sekedar membagikan bansos begitu saja, melainkan memberikan pendampingan kepada Penerima PKH.

"Tujuannya adalah memberikan motivasi, menanamkan kemandirian, dan kepercayaan diri mereka sehingga kelak dapat mandiri dan tidak tergantung pada bantuan sosial pemerintah," katanya.

Pendampingan kepada KPM, lanjutnya, juga diberikan dalam sesi Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2). Termasuk juga mengidentifikasi kemampuan dan potensi anak-anak KPM yang berprestasi. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya