Berita

PMKRI Harus Mampu Membaca Tanda-tanda Zaman

SENIN, 11 JUNI 2018 | 09:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Keluarga besar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesika (PMKRI) baik yang masih aktif maupun alumni hendaknya dapat memberi jawaban atas berbagai tantangan zaman now terkait dengan masa depan Indonesia.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah kesinambungan kepemimpinan di PMKRI harus menjamin bahwa bendera PMKRI selalu mengawal NKRI. Kegagalan PMKRI terjadi ketika para tokoh, para pemimpin, para alumi dan para aktivisnya tidak mampu lagi memberi kontribusi kepada negara dan bangsa atas berbagai permasalahan yang terjadi dalam tubuh NKRI saat ini.

Oleh karena itu, PMKRI sebagai organisasi mahasiswa tertua harus menjadi motor perubahan dengan mampu membaca tanda-tanda zaman dengan cara mencerdaskan diri dan mengaktualisasi diri dalam berbagai siuasi dan kondisi negara Indonesia.


PMKRI harus mengawali bangsa ini untuk berbicara dengan data yang valid dan menolak hoax. Hanya berbasiskan data valid, komitmen PMKRI untuk berkontribusi solusi atas persoalan kebangsaan akan menjelaskan posisi dalam memikirkan masa depan NKRI.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum Forum Komunikasi Alumni PMKRI (FORKOMA) Hermawi Taslim kepada para aktivis PMKRI di Bali dan Lombok dalam rangka perjalanannya ke Kawasan Regio Nusa Tenggara-Bali, Sabtu lalu (10/6).

"Jika kita tidak bisa membaca tanda-tanda zaman, kitalah yang akan digerus oleh zaman itu. Zaman adalah waktu sebuah era yang pasti akan datang sekalipun kita menghindar ataupun menghadapinya. Akan selalu muncul tokoh dalam suatu era sesuai yang dikehendaki zaman itu. Kita bisa menjadikan diri kita seorang tokoh dengan kemampuan melihat tanda-tanda zaman ataukah menjadi pecundang karena tidak mempu menganalisa tanda-tanda zaman," ujar Taslim dalam keterangannya, Senin (11/6).

Menurut Taslim, Gereja Katolik mampu bertahan dalam perjalanan waktu 2000 tahun lebih sekalipun pimpinan puncaknya yaitu Paus berganti-ganti. Hal itu dimungkinkan karena para tokoh di dalam Gereja Katolik mampu membaca tanda-tanda zaman dengan kearifan. Sebagai sebuah organisasi tertua, Gereja Katolik membuktikan diri dengan melewati berbagai zaman, hanya karena para pemimpinnya komit atas sebuah visi dan misi. Gereja Katolik menjadi sebuah organisasi tertua di dunia yang mampu memberi arah perubahan bagi seluruh pemimpin dunia pada masing-masing zaman.

"Yang penting dalam zaman now adalah bagaimana para aktivisi dan alumni PMKRI menjelaskan dan mempertahankan arti sebuah kebenaran. Hoax hanya bisa dilawan dengan sebuah kebenaran. Kebenaran membutuhkan data, sebagai alat bukti. Oleh karena itu, gunakanlah data untuk berbicara sesuatu agar Anda tidak dituduh sebagai tukang hoax, penyebar kebencian, dan nyinyir," tegas pria asal Nias ini.

Didampingi tokoh kerawam setempat Komang Purnama, Taslim mengadakan dialog dengan para aktivis  PMKRI Denpasar di bawah pimpinan ketuanya Efraim Mbomba Reda. Pada kesempatan tersebut, PMKRI Denpasar menunjukkan koleksi buku di perpustakaan Marga Siswa yang terletak di salah satu ruangan sekretariat PMKRI.    Taslim juga mendapat bingkisan dua novel buah karya Efraim yang ditulis dalam kesibukannya dalam menyelesaikan studi di Universitas Udayana Bali.

Sedangkan di Mataram, pertemuan berlangsung di Marga Siswa yang dihadiri belasan pengurus DPC Mataram. Selain itu hadir dalam acara pertemuan tersebut, sejumlah pengurus FORKOMA Mataram seperti Dr. Eddy Ferbandez, Agus Balela, Adolfus Salim Basco dan Anselmus Ngago.

Dalam pertemuan di Mataram, Ketua PMKRI Mataram Adrianus Umbu Zogara mengatakan meskipun di Mataram para anggotanya tidak besar dan sebagian adalah pendatang, eksistensi PMKRI nyata dan mendapat tempat tersendiri di masyarakat Nusa Tenggara Barat. PMKRI mempunyai hubungan yang baik dengan kalangan pemerintahan NTB.

Sementara Ketua FORKOMA Mataram, Yohanes Agustinus Balela menjelaskan, peran serta umat Katolik di NTB memberikan kontribusi bagi daerah NTB terutama terkait dengan bidang pendidikan dan kesehatan. [rus]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya