Berita

Nusantara

Puluhan OKP Desak Pemerintah Evaluasi Parpol Yang Terlibat Radikalisme Dan Terorisme

SELASA, 05 JUNI 2018 | 15:58 WIB | LAPORAN:

Sejumlah OKP yang tergabung dalam Forum Rumah Anak Bangsa menggelar diskusi soal peran pemuda dalam melawan radikalisme dan terorisme, di Bandung, Selasa (5/6).

Peserta berasal dari berbagai organisasi seperti PW Ansor Jawa Barat, PB PMII dan organisasi lainnya yg diwakili 150 peserta dari perwakilan sejumlah OKP dan Ormawa di Jawa barat.

Pengurus Besar Pergerkan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Ahmad Riyadi yang juga anggota komunitas Rumah Anak Bangsa mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa elemen pemuda sangat menyesalkan akan munculnya gejala kekerasan seperti radikalisme, terlebih terorisme.

Mereka juga menyoroti kemungkinan soal partai politik terlibat radikalisme atau terorisme.

"Partai politik harus bersih dari radikalisme dan terorisme, justru kita meminta kepada negara agar mengevaluasi partai politik agar berperan aktif memerangi dan mengkanalisasi paham radikalisme dan terorisme,” terang Ahmad Riyadi seperti diberitakan RMOL Jabar.

Menurut dia, publik saat ini sudah tahu betul bahwa sejumlah kader bahkan elit partai jelas terlibat dengan ISIS (penangkapan di Jatim), bahkan secara terbuka menganggap aksi teror sebagai pengalihan isu dan menganggap itu seakan sebuah rekayasa.

“Berarti hal ini menunjukan dlm tubuh partai tersebut ada yang aktif dan pasif dalam grakan radikalisme dan terorisme," jelas Ahmad Riyadi.

Dalam amatan dia, radikalisme sekarang menjadi permalasahan serius dan mengancam ketentraman hidup masyarakat. Dalam memerangi radikalisme, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

Oleh karena itu, lanjut Ahmad Riyadi, parpol jangan sampai terlibat radikalisme dan terorisme. Sebab, parpol merupakan akar dari demokrasi yang dapat mengendalikan regulasi dan tata kehidupan bangsa.

"Sebetulnya pertanyaan ini cukup menggelitik kami, apakah partai politik saat ini benar-benar bersih dari gerakan atau ideologi radikalisme," katanya.

Ahmad Riyadi menambahkan, persoalan itu perlu dikupas lantaran fenomena radikalisme sudah menyebar ke aspek kehidupan masyarakat, seperti dunia pendidikan, lingkungan, pekerjaan, politik dan juga agama.

"Untuk itu perlu diperangi secara bersama," tandasnya. [sam]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya