Berita

Foto: Ist

Politik

Video #Mei98JanganLagi Produksi PSI Bukti Keberpihakan Terhadap PKI

SENIN, 04 JUNI 2018 | 14:29 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Video #Mei98JanganLagi yang mengkritik kebijakan Presiden ke-2 Soeharto tentang penumpasan PKI mengarah keberpihakan PSI terhadap partai terlarang itu.

Ketua Umum Maritim Berkarya, Andriyani Sanusi menilai kritikan PSI dalam video berduarasi dia menit untuk mengenang 20 Tahun Reformasi di bulan Mei itu merupakan pembelaan terhadap PKI. Pihaknya mencurigai PSI mendukung keberadaan PKI di Indonesia.

Menurutnya prestasi Soeharto dalam menumpas komunis mendapat banyak pengakuan baik dari dalam negeri maupun luar negeri sebagai langkah yang tepat.


Jika Soeharto tidak melakukan demikian, sambung Andri bisa jadi Indonesia pada masa itu seperti peristiwa Khmer Merah di Kamboja.

“Bahkan anda kader PSI yang hidup di zaman sekarang mungkin sudah tidak akan hidup di Indonesia kecuali anda sekalian menjadi komunis," terang Andri dalam pesan elektroniknya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin, (4/6).

Lebih lanjut Andri mendesak PSI untuk meminta maaf dengan keluarnya video tersebut guna menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya video tersebut bisa dikategorikan sebagai upaya menghasut masyarakat dan menyebarkan kebencian. Terlebih, dari video tersebut pihaknya merasa dirugikan lantaran Ketua Umum Partai Berkarya merupakan keluarga Soeharto.

"Ini adalah black campaign yang semestinya tidak dilakukan, masih bau kencur tapi sudah melakukan pembusukan, bagaimana jika berkuasa," ucap Andry.

Maritim Berkarya yang merupakan sayap Partai Berkarya siap melakukan pembelaan kepada isi video ini dan akan melaporkan pihak PSI atas adanya ujaran kebencian ini.

Dalam video berdurasi sekitar dua menit itu, ditayangkan tentang keburukan Soeharto beserta keluarganya, termasuk Tommy Soeharto yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Berkarya. [nes]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya