Berita

Foto/Net

Bisnis

Tingkatkan Layanan, Visa Tak Cemas Pasar Tergerus

GPN Timbulkan Persaingan Baru
RABU, 30 MEI 2018 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kehadiran Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sebagai prinsipal pembayaran domestik, mau tidak mau menggerus pemain lama sekaligus prinsipal asing, seperti Visa dan Mastercard di Tanah Air. Meski begitu, bertambahnya pemain baru, malah membuat persaingan antarprinsipal semakin sehat.

Menyoal ini, Presiden Direktur Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman mengakui, kehadiran GPN memang menimbulkan persaingan baru bagi prinsipal luar negeri. Namun katanya, kompetisi ini dianggap Visa sebagai hal yang biasa terjadi di dalam bisnis.

"Hadirnya GPN ya sama saja seperti kompetitor yang menge­luarkan satu produk. Kebetulan produknya itu GPN. Tapi seperti saya bilang, pada akhirnya yang membuat keputusan itu adalah nasabah," imbuhnya saat ditemui Rakyat Merdeka.


Riko mengatakan, saat ini kartu berlogo Visa tetap dapat digunakan di dalam negeri. Ia juga meyakini pihaknya memiliki keunggulan yang dimiliki prinsipal asing, di mana kartu dengan logo Visa juga bisa digunakan di negara lain. Hal itu yang itu yang belum bisa dilakukan GPN, karena memang fokus cakupannya domestik.

"Nah nilai tambah itu yang mampu meningkatkan daya sa­ing Visa dibandingkan dengan perusahaan prinsipal domestik. Karena banyak nasabah yang tetap bersedia bayar lebih, karena mengejar benefit itu," tuturnya.

Visa, lanjut Riko, dalam per­saingan tersebut juga tidak berencana menurunkan biaya routing transaksi kartu kredit maupun kartu debit, agar dapat bersaing dengan transaksi domestik GPN.

"Strategi yang akan ditempuh Visa bukanlah menyesuaikan tarifnya, melainkan meningkatkan keung­gulan layanan yang dimiliki. Salah satu inovasi yang akan ditingkatkan adalah metode pembayaran contact­less atau nirsentuh," umbarnya.

Sekarang baru ada satu bank swasta di Indonesia yang bekerja sama dengannya untuk menerap­kan metode pembayaran contact­less. Selanjutnya akan diperbanyak merchant yang dapat menerima cara transaksi nirsentuh ini.

"Kami akan menambah merchant yang bisa menerima contactless, seperti supermarket, convenience store, restoran cepat saji, apotek, dan lain-lain. Selain itu juga akan dimasifkan di kota-kota wisata, karena di sana banyak wisatawan dari luar negeri," kata Riko.

Terpisah, Direktur Master­card Indonesia Tommy Singgih mengatakan, pihaknya sejauh ini masih belum bisa berkomentar lebih jauh mengenai dampak dari implementasi GPN.

Tommy mengaku, pihaknya siap mengikuti regulasi yang telah ditetapkan BI mengenai GPN ini. Untuk itu Mastercard siap bekerja sama dengan pemerintah dalam program itu. "Karena kami semua di bawahnya supervisi mereka (BI), jadi kita ikut aturan yang ada dan regulasinya sudah dibuat kan sekarang, ya kita ikuti," tuturnya.

BI secara resmi meluncurkan kartu berlogo GPN awal Mei 2018 lalu. Dengan cara ini, maka seluruh pembayaran antar bank di Indonesia menjadi satu dan saling terhubung alias terbangun interkonektivitas dan interoperabilitas.

Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Anggoro Eko Cahyo menyebut, dari sebanyak 98 bank yang telah mendapat izin dari BI, 70 di antaranya telah menerima rekomendasi dari ASPI.

Direktur Eksekutif Departe­men Elektronifikasi dan Gerbang Pembayaran Nasional BI Pungky Wibowo menambahkan, sejak implementasi di Desember 2017, jumlah volume interkoneksi kartu debit sudah mencapai 442 ribu transaksi, dengan total nominal Rp 219,5 miliar.

"Berdasarkan data lembaga switching, rata-rata pertumbu­han volume transaksi debit in­terkoneksi Desember 2017 naik mencapai 143,7 persen tiap bulan. Meningkat sejak bulan Desember 2017," kata Pungky.

Sementara per Maret 2018, menunjukan bahwa jumlah transaksi pembayaran mencapai 338 juta transaksi dengan nomi­nal mencapai Rp 1,89 triliun. Pungky memperkirakan volume ini akan terus bertambah sejalan dengan implementasi penuh GPN di 2018. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya