SABTU malam, 27 Mei 2018, saya melihat pemandangan indah di markas besar Voice of Palestine (VOP) di Jakarta yang dikelola oleh Bung Mujtahid Hasyim selaku pimpinan lembaga pembela Palestina ini.
Seusai salat dan berbuka, teman-teman terlibat dalam diskusi santai untuk menemukan titik temu selesaikan masalah negeri ini.
Kekuasaan memang penting karena di sanalah letak otoritas. Tapi ada yang lebih penting lagi dari kekuasaan, yaitu rakyat. Karena dari rakyat ada kekuasaan.
Hal itu sudah dibuktikan dalam gerakan 212 yang harus terus dipertahankan dalam garis politik. Jangan sampai gerakan 212 dipersempit jadi ruang variabel (baca bukan asas).
Bila ada upaya untuk mengalihkan gerakan 212 pada langkah-langkah koperasi dan ekonomi, maka semua itu harus dipahami sebagai variasi gerakan bukan substansi.
Gerakan 212 diharapkan terus bisa mengawal pemerintahan siapa pun pemimpinnya. Kekuatan 212 harus selalu kritis.
Siapapun yang memimpin negeri ini tidak lah penting. Yang penting adalah konsentrasi pada agenda kerakyatan yang digagas siapapun pemimpinnya. Tapi sebelum masuk pada agenda, siapakah pihak yang layak dipercaya untuk memimpin dan mengawal agenda-agenda kerakyatan? Masihkah kita percaya pada Jokowi? Atau mungkinkah kita percaya pada siapapun yang jadi rivalnya? Kepercayaan adalah modal pemimpin dan juga senjata masyarakat.
Anies Baswedan di level gubernur sampai sejauh ini dapat diharapkan sebagai bentuk kepemimpinan yang dikawal rakyat dan juga dipercaya. Meski sejauh ini, Anies belum melakukan dobrakan baru yang lebih menunjukkan kekhasan kepemimpinan sejatinya yang pro rakyat.
Anies sudah buktikan stop reklamasi. Harus diakui bahwa menyetop reklamasi adalah kebijakan Anies yang harus diapresiasi. Tapi keberanian Anies dalam menyetop reklamasi tidak lain dan tidak bukan karena dorongan rakyat.
Anies juga melindungi Kampung Akuarium dan mengembalikan harkat warga kampung tersebut meski masih belum maksimal. Tapi setidaknya langkah-langkah Anies di Kampung Akuarium mampu menghambat ketamakan pengembang Taipan atas daerah tersebut.
Harus diakui bahwa apa yang dilakukan Anies di Kampung Akuarium adalah keberanian Anies Baswedan selaku gubernur. Akan tetapi saya melihat kebijakan Anies di Kampung Akuarium tidak lebih dan tidak bukan juga masih karena dorongan rakyat.
Saat ini, Anies diharapkan melakukan dobrakan baru yang murni muncul dari kepemimpinan sejatinya yang pro rakyat. Sebagai contoh, pembatasan Alfamart dan Indomart harus jadi kebijakan Anies Baswedan. Dengan pembatasan kedua market waralaba tersebut diharapkan bisa hidupkan ekonomi pro rakyat dan lebih riil menyejahterakan rakyat.
Yang lebih menyedihkan lagi, market waralaba tersebut juga sudah mulai menjajakan produk-produknya dengan gerobak keliling ke kampung - kampung.
Tidak cukup dengan toko yang merambah di seluruh penjuru menggerus ekonomi rakyat, tapi toko waralaba tersebut juga mau menggeser para penjaja rakyat jelata yang kelilingkan barangnya ke rumah-rumah.
Apa yang tersisa dari rakyat?!! Kita tunggu inisiatif dan dobrakan baru dari Pak Anies dalam membela rakyat.
[***]Alireza AlatasPembela ulama dan NKRI/aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (Silabna)