Berita

Hari Mulyanto/Dok

Pertahanan

Wawasan Kebangsaan

JUMAT, 25 MEI 2018 | 09:30 WIB

NEGARA Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati dan sudah final, tetapi semenjak reformasi kembali terusik setelah banyak perilaku radikal dan intoleransi hingga munculnya aksi terorisme di sana-sini.
 
Kenapa ini bisa terjadi? Mungkin ada sedikit pencerahan yang perlu kita bagi disini.
 
KITA harus ingat bahwa NKRI terbentuk dan berdiri menjadi sebuah negara yang merdeka, karena adanya kesepakatan dari para pendiri bangsa untuk merdeka pada 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan semboyannya 'Bhinneka Tunggal Ika' yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
 

 
Di Indonesia ada banyak suku bangsa seperti Jawa, Sunda, Ambon dan masih banyak lagi lainnya. Demikian pula agama yang dianut para pemeluknya ada Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha yang sudah sejak lama hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati satu sama lainnya.
 
Para pendiri bangsa ini telah sepakat menggunakan Pancasila sebagai Ideologi dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Namun sayangnya, nilai-nilai luhur Pancasila tersebut mulai sirna tatkala masyarakat Indonesia menginginkan adanya perubahan yang ditandai Gerakan Reformasi Nasional tahun 1997 dengan tumbangnya rezim Orde Baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun.
 
Euforia reformasi telah melunturkan nilai-nilai kebangsaan yang telah melekat dan menyatu dengan perilaku bangsa Indonesia, tak terkecuali pengamalan terhadap nilai-nilai luhur Pancasila.
 
Sejarah kembali terulang, ketika Orde Baru berkuasa semua tatanan yang berbau Orde Lama disingkirkan demikian halnya pada saat era reformasi bergema, semua bau Orde Baru dianggap salah dan harus direformasi. Tidak terkecuali dengan Pancasila yang merupakan ideologi negara.
 
Ingat !!! bahwa Pancasila bukan peninggalan Orde Baru atau Orde Lama, tetapi Pancasila adalah Dasar Negara, Ideologi Negara dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.
 
Pancasila mengajarkan kita untuk mengakui adanya Tuhan dalam sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang adil dan beradab sebagaimana tertuang dalam sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab; dalam sila yang ketiga Persatuan Indonesia, Pancasila mengajarkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal ini mutlak karena bangsa Indonesia terdiri dari berbaga suku bangsa, budaya dan agama.

Dalam sila ke empat Pancasila, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Terkandung makna bahwa dalam rangka membangun dan menentukan arah perjalanan bangsa harus didasari adanya permusyawaratan yang mewakili seluruh rakyat Indonesia.

Dan pada sila kelima, Pancasila mengajarkan tentang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
 
Kelima sila dalam Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan ajaran agama yang ada di Indonesia.  Pancasila memang bukan agama, tetapi merupakan ideologi untuk mempersatukan perbedaan yang ada di dalam masyarakat Indonesia.
 
Kalau masyarakat Indonesia sudah tidak paham dengan ideologi negara, maka akan timbul berbagai rongrongan dari berbagai kelompok bangsa yang ingin memperjuangkan ambisinya tanpa memperhatikan kelompok lain.
 
Negara tanpa ideologi akan rapuh dan sulit untuk bersatu dalam mencapai cita-cita nasional sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 'yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum; mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.'
 
Pancasila akhir-akhir ini hanya diucapkan oleh Inspektur Upacara dan ditirukan oleh peserta upacara setiap sebulan sekali. Pancasila seakan sirna, dan tidak ada lagi penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
 
Sebagai Ideologi Negara, maka Pancasila harus kita pedomani dalam rangka menentukan arah pembangunan bangsa, sebagai Ideologi Negara maka Pancasila harus kita hayati untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tercipta kedamaian dan kesejahteraan bangsa dan sebagai Ideologi Negara, Pancasila harus kita amalkan untuk mewujudkan masyarakat yang toleran dan berkeadaban, sehingga mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. [***]


Hari Mulyanto, M.Sc.
Alumni Pertahanan Nasional Universitas Gadjah Mada



 

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Saham BMW Menguat di Tengah Kerja Sama Qualcomm

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 12:21

1,49 Juta Penerima Bansos Terindikasi Judol Ditangguhkan, Begini Cara Cek Penerima Agustus 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:24

Karhutla Kerap Terjadi di Lokasi Sama, Kemenhut Diminta Perkuat Mitigasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:17

Emas Antam Terbang Rp40.000, Dekati Harga Rp2,7 Juta per Gram

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:08

Tailan Perketat Aturan Senjata Usai Penembakan Sekolah Tewaskan 8 Orang

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:53

Lewat AI Innovator University, UNSIA Janji Hadirkan Pendidikan Merata di Indonesia

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:43

Laporan FAO: Konflik Teluk hingga El Nino Pemicu Lonjakan Harga Pangan Global

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:26

DPR Dukung Kepala BGN Tindak Lanjuti Temuan 6 Juta Data Ganda Penerima MBG

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:17

Sinopsis Film Thriller Terbaru The Last House di Netflix

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:09

Komisi III DPR Minta Polisi Transparan Usut Temuan 995 Senpi di Sekolah Pondok Pinang

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:01

Selengkapnya