Berita

Fredrich Yunadi/Net

Hukum

Fredrich Ajak Anak Buah Bersaksi Untuk Beberkan Fakta

SELASA, 22 MEI 2018 | 19:56 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Upaya terdakwa Fredrich Yunadi untuk lolos dari perkara merintangi penyidikan kasus korupsi KTP-elektronik terus dilakukan.

Saat sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (21/5) kemarin, pihak Fredrich mengajukan dua saksi untuk mengungkap fakta yang terjadi saat Setya Novanto mendapat kelakaan pada Kamis 16 November 2017. Keduanya yakni Sandy Kurniawan dan Tito.

Dihadapan majelis hakim Sandy menjelaskan dirinya bergabung bergabung Yunadi & Associstes, kantor hukum Fredrich Yunadi sejak 2010, dan telah menangani ratusan kasus baik perdata, pidana, korupsi, TUN.


Sandy memaparkan pada Kamis 16 November 2017 sekitar jam 13:00 WIB, Ia diajak makan siang oleh Fredrich di kawasan radio dalam, Jakarta Selatan. Setelah itu, dirinya dan Fredrich mampir ke apartemen Botania bertemu dengan dokter Bimanes Sutarjo.

Masih pada hari yang sama pada pukul 17:00 WIB, Sandy menerima telepon dari terdakwa untuk segera datang ke KPK. Telepon itu mengabarkan Novanto akan hadir di KPK pada malam hari 20:00 WIB.

"Saya tidak bisa ke KPK karena pemeriksaan di Bareskrim belum selesai, di berita TV mendengar Setnov mengalami musibah kecelakaan lalin, dan masuk RS MPH (Rumah Sakit Medika Permata Hijau)," ujar advokat yang bergabung dengan Yunadi & Associstes itu, dalam kesaksiannya.

Berselang keesokan harinya, ia datang ke RS MPH untuk membantu terdakwa memindahkan Novanto ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Selama di RS MPH maupun di RSCM, kata dia, banyak penyidik KPK dan anggota Polri yang dibawa KPK. Sementara itu, dia hanya sendiri mendampingi Novanto.

Dia menegaskan, Fredrich tidak pernah mencegah atau menghalangi apalagi menggagalkan upaya penyidikan KPK terhadap Setnov. Justru, dia melihat terdakwa membantu hingga proses lancar. Akhirnya, pada 19 November 2017, kata dia, Novanto dibawa ke kantor KPK.

Sepengetahuan dia, Novanto menderita luka karena kecelakaan lalu lintas. Sementara itu yang menyuruh Novanto dirawat inap adalah tim dokter RSCM karena dinilai Novanto membutuhkan perawatan lebih intensif.

Dia menuding penyidik KPK telah melakukan pelanggaran hukum. Salah satunya, pada 11 Januari 2018, saat penyidik KPK melakukan penggeledahan tanpa disaksikan oleh kepala lingkungan.

"Banyak dokumen dan barang yang tidak ada kaitan dengan kasus pasal 21 UU 31/1999 juga diambil paksa oleh penyidik KPK," ujarnya.

Sementara itu, saksi lainnya, Tito, memberikan keterangan mengenai kehadirannya di RS MPH pada Kamis (16/11) sekitar pukul 20.30 WIB. Dia datang ke rumah sakit itu bersama rekan Ridwan, dan perwakilan dari Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).

Dia melihat, semua tindakan yang dilakukan Fredrich telah sesuai hukum acara dan tidak ada terdakwa melakukan di luar koridor hukum. Dia menegaskan, tidak ada tindakan atau kata-kata terdakwa yang menghalangi KPK.

"KPK tidak bisa tunjukkan surat perintah, dimana Polri yang dibawa penyidik KPK dengan senjata laras panjang , senjata serbu itu tanpa surat perintah," kata Tito.

Saat di RSCM, Tito mengetahui ada penyidik KPK sekitar 40 hingga 50 orang dengan dikawal puluhan anggota Polri dan memenuhi ruang IGD RSCM.  

Menurut Tito semua kekuarga ajudan teman partai Golkar dilarang masuk oleh penyidik KPK di RSCM dan  ketika dinyatakan oleh tim dokter Setnov boleh rawat jalan dipindahkan ke rutan KPK.

"Terdakwa sepenuhnya membantu dan melancarkan proses penyidik KPK," ujar Tito.  [nes]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya