Berita

Muhammad Taufik/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhammad Taufik: Sejak 2014 Kami Belum Serahkan LHKPN, Karena Enggak Gampang Juga Ngisinya

SENIN, 21 MEI 2018 | 08:38 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengkritik DPRD DKI Jakarta, lantaran selu­ruh anggotanya belum melaporkan harta kekayaan. Berdasarkan data tingkat kepatuhan penyampaian Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) persentase kepatuhan DPRD soal LHKPN tercatat masih 0 persen. Jauh di bawah pejabat BUMD sebesar 83,17 persen, serta pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov DKI yang mencapai 66,26 persen.

Menurut Saut, belum adanya anggota dewan yang menyampaikan LHKPN disebabkan oleh tidak adanya paksaan dari KPK, serta ketidaktahuan soal prose­dur pelaporan. Oleh karenanya KPK akan membentuk tim yang akan mendorong para anggota parlemen DKI untuk menyetor­kan LHKPN bersama.

Lantas bagaimana tanggapan DPRD DKI terkait masalah ini? Kenapa semua anggotanya belum menyerahkan LHKPN? Dan kapan akan diserahkan? Berikut penuturan Wakil Ketua DPRD DKI Muhammad Taufik kepada Rakyat Merdeka.


Seluruh anggota DPRD DKI diketahui belum menyerahkan LHKPN. Apa tanggapan Anda terkait hal ini?
Tanggal 23 Mei akan ada pen­jelasan soal tata cara pengisian LHKPN oleh KPK di DPRD. Jadi mereka akan jelaskan soal itu kepada semua anggota DPRD DKI. Insyaallah kegiatan itu akan diikuti oleh semua anggota DPRD DKI Jakarta.

Memangnya selama ini belum ada sosialisi terkait tata cara pengisian LHKPN di DPRD DKI?
Belum, belum pernah ada. Sejak kami menjabat belum per­nah ada sosialisasi, baru 23 Mei ini. Makanya semua anggota DPRD DKI belum menyerahkan LHKPN. Karena kan enggak gampang juga ngisinya. Jadi be­sok 23 Mei akan ada penjelasan. Nanti kami lagi cari waktu untuk mengisi secara bersama-sama, dengan dipandu oleh KPK.

Jadi semua anggota DPRD DKI belum menyerahkan LHKPN lantaran tak tahu tata cara pengisiannya toh?
Salah satunya itu. Terus karena dulu kan masih perdebatan, ang­gota DPRD ini termasuk pejabat negara apa bukan. Tapi sekarang enggak ada alasan lagi, saya kira wajib ngisilah semua. Walaupun enggak ada sanksi formilnya, tapi kan ada sanksi moral.

Maksud Anda dan kawan-kawan Anda mengganggap DPRD bukan pejabat negara?
Ya dulu kan sempat ada perde­batan begitu. Apalagi kan eng­gak ada sanksi, enggak wajib. Kalau sekarang kan mendekati wajib ini. Jadi DPRD DKI bu­kannya enggak mau ngisi. Lalu teman-teman kan bayar pajak juga kan? Jadi berangkat dari situ nanti ngisinya. Tapi nanti tetap akan dipandu oleh KPK.

Anda sendiri dari sejak kapan tak melaporkan LHKPN?
Ya sejak awal belum, sejak 2014 kami belum ngisi. Saya juga termasuk. LHKPN saya belum, SPT tahunan yang sudah rutin.

Memang apa susahnya sih ngisi LHKPN itu?
Enggak segampang yang dibayangkan juga. Kemarin waktu ketemu dengan KPK dan dijelaskan, ternyata memang agak ribet juga. Misalnya apa saja sih yang harus dimasukkan? Itu kan kami belum tahu. Karena sosialisasinya juga kan kurang, belum ada malah di DPRD DKI ini.

Selama ini tidak diper­masalahlan bisa tidak ada sosialisasi begitu?
Enggak, karena memang eng­gak ada sanksi itu. Enggak ada yang mewajibkan.

Kapan rencananya akan mengisi LHKPN-nya?
Belum tahu, nanti setelah 23 Mei baru ketahuan kapannya. Sebelumnya kan KPK itu baru bertemu dengan pimpinan. Nah, 23 Mei baru bertemu dengan se­mua anggota DPRD DKI untuk menjelaskan. Tapi targetnya bu­lan ini sudah dilakukan. Karena kan mereka harus siapkan dulu semua dokumennya.

Pemprov DKI kan beren­cana melepas saham perusa­haan bir. Apa tanggapan anda soal rencana tersebut?

Ya enggak apa-apa dong. Kalau saya sih setuju ya. Menurut saya DKI lepaslah saham itu. Kalau mau serahkan ke BUMD saja. Dan kalau dilepas itu luma­yan kan dapat duit Rp1 triliun. Apalagi Pemprov DKI itu enggak kuat posisinya di perusahaan itu. Karena sahamnya cuma mi­noritas, cuma sekitar 26 persen. Perusahaannya dikelola oleh pihak lain. Alasan lainnya adalah kalau Pemprov DKI buat kebijakan tentang minuman keras. Pemprov DKI itu kan menolak minuman keras. Tapi masa ikut sebagai produsen? Walaupun eng­gak secara langsung ya.  ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya