Berita

Medsos/Net

Politik

Pemilu Harus Dimulai Dari Sosmed Tanpa Fitnah

SENIN, 21 MEI 2018 | 07:12 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dan setelah 20 tahun reformasi, tentu saja bukan hal mudah menjadikan demokrasi sebagai metode untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

Dan saat ini, Indonesia menghadapi tantangan untuk mewujudkan pemilu yang jujur, adil, rahasia, dan bermartabat berbudaya yang ditandai dengan semangat melawan money politics atau kejahatan lainnya.

"Pemilu bermartabat ditandai penggunaan sosmed yang waras, tanpa fitnah atau ujaran kebencian. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dalam pemilu harus dijamin hak konstitusinya dalam menggunakan hak dalam keadaan yang nyaman dan bahagia," kata Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Eko Suwanto dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/5).


Dia mengatakan bahwa demokrasi yang baik juga ditandai dengan kedamaian dan semangat melawan politisasi agama untuk kepentingan pihak tertentu.

Politisi muda PDI Perjuangan dapil Kota Yogyakarta itu menengarai ada gelagat dari pihak tertentu yang oleh karena dibutakan nafsu angkara murkanya justru membajak demokrasi yang berjalan dengan berusaha mengganti arah perjuangan bangsa. Yairu melalui ancaman intoleransi, radikalisme dan terorisme termasuk ancaman fitnah, hasutan dan ujaran kebencian di sosmed.

"Menghadapi ancaman ini kita dukung konsolidasi besar antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama melawan. Penegakan hukum harus diiringi dengan pendidikan politik yang baik," kata Eko Suwanto.

Sebagai aktivis GMNI, Eko mengingatkan bahwa sejarah pergerakan kaum muda tak boleh dilupakan begitu saja. Reformasi menjadi bukti bahwa rakyat tidak sudi dipimpin oleh pemerintahan rezim orde baru pimpinan Suharto yang serakah, korup dan otoriter.

"Gerakan mahasiswa harus terus berpedoman pada amanat penderitaan rakyat dalam wujudkan rakyat yang sejahtera, adil dan makmur", kata Eko Suwanto, alumni GMNI.

Kini, setelah 20 tahun reformasi berlalu, Eko pun memberikan sejumlah catatan. Pemerintah dan rakyat harus kompak melawan intoleransi, radikalisme, terorisme, aksi teror dan aksi politis yang merongrong kewibawaan pemerintah yang dilakukan para pembajak demokrasi.

Kedua, sambung Eko, adalah bersama-sama membuat sejarah kebangsaan Indonesia menuju  pintu gerbang kesejahteraan, sesuai cita-cita founding fathers dwi tunggal,  Soekarno-Hatta. Yaitu melalui ajaran trisakti; berdaulat dalam bidang politik,  berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

"Tri Sakti perjuangan kebangsaan ini harus terus digelorakan untuk menuju Indonesia yang sejahtera," demikian Eko. [ian]

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

UPDATE

Hindari Work From Home Jumat dan Senin

Kamis, 26 Maret 2026 | 02:13

Permainan Kubu Jokowi dalam Kasus Tuduhan Ijazah Palsu Makin Ngawur

Kamis, 26 Maret 2026 | 02:11

Prabowo Perintahkan Bahlil Cari Sumber Pendapatan Sektor Mineral

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:37

RS Jiwa Dipenuhi Pecandu Game Online dan Judol

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:14

Buntut Penangguhan Yaqut, Kasus Kuota Haji Bisa Berlarut-larut

Kamis, 26 Maret 2026 | 01:01

Tiket Taman Margasatwa Ragunan Tetap Dipatok Rp4 Ribu

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:28

Prabowo Pacu Hilirisasi dan Ketahanan Energi

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:19

Pelanggaran Personel BAIS TNI Tidak Berdiri Sendiri

Kamis, 26 Maret 2026 | 00:05

Satgas PRR Percepat Penyelesaian Hunian Tersisa

Rabu, 25 Maret 2026 | 23:25

MBG cuma 5 Hari Potensi Hemat Rp40 Triliun per Tahun

Rabu, 25 Maret 2026 | 23:22

Selengkapnya