Berita

Politik

Kerusuhan Mako Brimob, Makanan Hanya Pemicu Pasti Ada Persoalan Besar

JUMAT, 11 MEI 2018 | 14:53 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kerusuahan luar biasa di Mako Brimob Kelapa Dua yang melibatkan ratusan narapidana terorisme perlu mendapat perhatian.

Menurut Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha) Azmi Syahputra, kerusuahan tersebut bukan hanya karena persoalan sepele gara-gara makanan untuk napi.

"Tema gara-gara makanan hanyalah menjadi pemicunya saja, pasti ada persoalan besar yang terjadi. Penyidik harus meneliti dan mengungkap lebih komprehensif agar ditemukan masalah utamanya," kata Azmi, Jumat (11/5).


Pengusaan para napi teroris terhadap blok rutan Mako Brimob sampai 36 jam merupakan bentuk kesengajaan dan sudah ada persiapan.

Mereka memilih waktu petugas atau penjagaan lebih kendor dalam hal ini jam waktu makan (istirahat). Jam itu dianggap waktu yang tepat untuk melakukan perlawanan dalam rutan.

"Pelaku sangat tahu kondisi dan sudah tahu apa resiko dan konsekuensi dari apa yang mereka perbuat, sampai  menimbulkan korban bagi petugas. Jadi pelaku menyadari resiko terburuk dari apa yang dilakukannya," tutur Azmi.

Dari kejadian tersebut terlihat para pelaku masih mengganggap bahwa perbuatannya atau tindakan sebagai pelaku teroris adalah benar. Dan menganggap simbol "polisi" adalah musuh.

"Ini yang jadi bagian masalah. Selanjutnya masalah lain adalah pembinaan dan penempatan napi ini juga  menjadi masalah utama," terang Azmi.

Untuk itu, Kementerian Hukum dan HAM harus memiliki formulasi yang berbeda untuk melakukan pembinaan bagi tahanan atau napi teroris.

Penempatan tahanan di Mako Brimob tidak efektif dan pembinaan napi masih belum maksimal. Karena para napi belum memiliki kesadaran atau rasa bersalah atas perbuatan yang dilakukannya. Di sini perlu polesan sentuhan kemanusiaan, dan tentunya wujud perlindungan hak asasi itu teroperasional agar pelaku merasa masih ada kesempatan dan manfaat dalam hidupnya serta dapat sadar.

"Karena dengan polisi yang masih "dianggap" sebagai musuh oleh para pelaku akan sulit untuk memberikan nutrisi penyadaran kepada para napi sehingga Kemenkumham melalui Dirjen Lapas harus bergerak cepat dan kembali pada tupoksi sebenarnya untuk melakukan pembinaaan kepada para napi, bukan mengalihkan atau menempatkan para napi dengan karakteristik khusus ini kepada pihak kepolisian," demikian Azmi. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya