Berita

Sandyawan Sumardi/Net

Jaya Suprana

Prihatin Atas Fitnah Terhadap Sandyawan Sumardi

RABU, 09 MEI 2018 | 09:14 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PADA bulan April menjelang Mei 2018, sekelompok masyarakat Indonesia di mancanegara mengundang Sandyawan Sumardi untuk menjadi pembicara pada suatu acara sarasehan mengenang Tragedi Mei 1998.

Undangan tersebut tepat sasaran karena tokoh pejuang kemanusiaan yang diundang adalah anggota Tim Pencari Fakta Tragedi Mei 1998 yang secara khusus dibentuk oleh Presiden BJ Habibie demi mencari fakta tentang apa yang sebenarnya benar-benar terjadi pada malapetaka kemanusiaan Mei 1998.

Batal



Setelah Sandyawan Sumardi mulai berupaya memperoleh visa demi memenuhi undangan tersebut, mendadak pihak pengundang membatalkan undangan akibat beberapa pihak tertentu merasa keberatan dengan dua alasan, yaitu Sandyawan Sumardi adalah anti Ahok dan mualaf karena telah meninggalkan agama Katolik untuk menjadi umat Islam.

Sandyawan Sumardi sendiri tidak keberatan undangan dirinya ke mancanegara dibatalkan dengan alasan apapun. Namun saya prihatin atas dua alasan pembatalan undangan yang benar-benar merupakan fitnah akibat sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.

Anti Penindasan

Sandayawan Sumardi adalah seorang tokoh pejuang kemanusiaan yang senantiasa bahkan niscaya berpihak kepada kaum tertindas seperti terbukti ketika mempertaruhkan jiwa-raga diri sendiri demi menyelamatkan Budiman Sujatmiko dari tangkapan resim Orba akibat berpihak ke PDIP pada peristiwa Kudatuli, menolong para tukang becak yang dibasmi pemerintah DKI Jakarta, menolong para korban tragedi Mei 1998, menghimpun jenazah-jenazah yang berserakan di berbagai pelosok Jakarta akibat angkara murka tragedi Mei 1998 untuk dapat dimakamkan secara layak, menolong para korban banjir di Jakarta, para korban tsunami di Aceh, para korban gempa bumi di Yogyakarta, menolong para warga tergusur di berbagai pelosok Nusantara.

Tokoh pejuang kemanusiaan kelahiran Jeneponto selalu berupaya hadir di mana ada manusia tertindas.

Memang Sandyawan Sumardi berada di gugus terdepan ketika melindungi para warga tergusur di Bukit Duri di mana Sanggar Kesenian Ciliwung Merdeka berada, namun bukan berarti Sandyawan Sumardi anti Ahok yang kebetulan sebagai Gubernur Jakarta memegang komando penggusuran di DKI Jakarta.

Memang Sandyawan Sumardi berbeda paham dengan Ahok dalam hal kemanusiaan namun sama sekali bukan berarti secara politis anti Ahok.

Sandyawan Sumardi bukan anti Ahok tetapi anti penggusuran terhadap rakyat miskin secara paksa apalagi secara melanggar hukum dan HAM yang dilakukan oleh siapa saja.

Andaikata saya menggusur rakyat miskin secara paksa apalagi secara melanggar hukum maka pasti Sandyawan Sumardi akan berseberangan paham dengan saya.

Katolik

Tuduhan bahwa Sandyawan Sumardi pindah dari agama Katolik ke agama Islam jelas fitnah. Sebagai pejuang kemanusiaan, Sandyawan Sumardi memang lintas agama, lintas ras, lintas suku, lintas etnis dan lintas politik maka secara Bhinneka Tunggal Ika maka bersahabat dengan siapa pun tanpa batasan agama, ras, suku, etnis dan politis.

Memang Sandyawan Sumardi bersahabat dengan banyak tokoh umat Islam dan mayoritas rakyat miskin yang ditolong Sandyawan Sumardi adalah umat Islam.

Namun secara pribadi, saya tahu benar bahwa mahaguru kemanusiaan saya ini merupakan seorang umat Katolik yang disiplin ke gereja, rajin membaca dan menghayati Alkitab serta senantiasa berupaya mewujudkan ajaran kasih-sayang Jesus Kristus kepada sesamanya.

Sebagai umat Protestan, saya pribadi banyak belajar mengenai peradaban Katolik dan semangat Jesuit dari Sandyawan Sumardi tanpa merasakan sedikit pun niat beliau mempengaruhi saya untuk menjadi umat Katolik.

Saya menulis naskah ini sama sekali di luar pengetahuan apalagi persetujuan Sandyawan Sumardi karena saya tahu pasti beliau menolak.

Saya menulis naskah ini semata akibat terdorong rasa prihatin atas nasib Sandyawan Sumardi yang dalam perjuangan menjunjung tinggi sila Kemanusiaan Adil dan Beradab ternyata malah menjadi korban fitnah. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

UPDATE

Donald Trump Buka Peluang Bertemu Mojtaba Khamenei

Jumat, 05 Juni 2026 | 08:19

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi Imbas Prospek Damai Timur Tengah

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:52

Emas dan Perak Menguat Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:40

BEI Bidik Dana Besar dari Dalam dan Luar Negeri demi Topang IHSG

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:17

Bursa Eropa Hijau, Saham Bank dan Airbus Pimpin Reli

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:06

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Kenaikan Bahan Baku Berimbas terhadap Industri Makanan dan Minuman

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:54

Artis Fabiola Gabung Sindikat Penipuan Online

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:43

Hantu Kurs Dolar

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:28

Inflasi Kehormatan Letkol Teddy Indra Wijaya

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:08

Selengkapnya