Berita

Gde Siriana/Net

Politik

Kotak-Kotak, Kerja, Kodok, Kacebong, dan Kalajengking

JUMAT, 04 MEI 2018 | 06:24 WIB | OLEH: GDE SIRIANA

TEORI komunikasi menjelaskan makna sebagai pemahaman pesan yang diberikan oleh orang lain tidak dapat terjadi kecuali kedua belah pihak atau para partisipan komunikasi dapat memperoleh makna yang sama bagi setiap kata, frasa, atau kode verbal yang ada.

Manusia termotivasi untuk bertindak berdasarkan pemaknaan yang mereka berikan kepada orang lain, benda, dan kejadian.

Teori interaksi simbolik menjelaskan manusia dapat memberikan makna kepada setiap kejadian tindakan, atau objek yang berkaitan dengan pikiran, gagasan dan emosi.


Makna dari suatu simbol memberikan landasan bagi tindakan dan perilaku selain gagasan dan nilai-nilai.

Kebetulan atau bukan, judul tulisan yang terdiri dari kata sifat, kata kerja, dan kata benda ini di dunia maya diasosiasikan dengan sosok Presiden Jokowi dan pendukungnya. Bagaimana itu semua berkembang menjadi suatu makna tunggal terjadi melalui proses pembentukan makna melalui pesan, baik pesan verbal maupun pesan nonverbal yang berupa simbol-simbol, tanda-tanda, dan perilaku.

Di sisi lain, yang berseberangan sangat tajam, juga terjadi simbolisasi seperti gerakan 212 yang diasosiasikan sebagai kelompok Islam. Dalam konteks pemilihan, gerakan ini dituding mengkampanyekan politik identitas.

Tetapi tuduhan itu kini tidak terbukti ketika kini gerakan berkembang menjadi gerakan akar rumput #2019GantiPresiden. Terdapat irisan-irisan dari kekuatan-kekuatan akar rumput pada gerakan 212 dan gerakan #2019GantiPresiden.

Term politik identitas berdasarkan agama tertentu yang dituduhkan penguasa kini tidak relevan lagi karena yang berkembang adalah politik identitas #2019GantiPresiden, sebagai simbol anti-tesa dari simbol kotak, kodok, kecebong dan kalajengking.

Simbol ini diterima banyak orang karena diproduksi oleh realitas dan peristiwa yang memiliki makna sama bagi masyakarat. Sehingga gerakan simbolik ini berkembang pesat karena masyarakat termotivasi untuk bertindak berdasarkan pemaknaan atas peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi.

Awalnya sebagai simbol gagasan dan nilai-nilai, kini #2019GantiPresiden memberikan landasan bagi tindakan dan perilaku orang-orang yang mendukung gerakan ini, menjadi gerakan politik. Karena dalam konteks pemilihan umum, demokrasi adalah persoalan kalkulasi suara secara kuantitas. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Local Governance Strategic Studies (LOGOSS)

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya