Berita

Pangi Syarwi Chaniago/Net

Politik

Menteri Dan Presiden Saat Ini Makin Aneh Bin Ajaib

KAMIS, 03 MEI 2018 | 08:44 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pernyataan Presiden Joko Widodo tentang bisa kalajengking yang dilontarkan di acara Musrembangnas penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4) patut disayangkan.

Sebab, selain tidak pada tempatnya, kajian tentang harga racun kalajengking itu belum konkret.

Begitu kata  pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (3/5).


“Kenapa pernyataan itu sampai keluar dari Jokowi? ini kan aneh, belum ada data kongkrit soal harga racun kalajengking?” ujarnya.

Tips menjadi orang kaya dari Jokowi tanpa korupsi, kata dia, tidak perlu dilontarkan saat momentum Musrembang. Momen ini seharusnya menjadi tempat bagi Jokowi berbicara yang lebih substantif.  

“Bukan nyuruh kepala daerah panen scorpion (racun kalajengkeng). Masyarakat butuh pembicaraan yang penting yang bersentuhan dengan perut rakyat langsung,” ujarnya.
 
Lebih lanjut, direktur eksekutif Voxpol Center ini menilai pernyataan Jokowi itu menambah keanehan perilaku pemerintah. Jika sebelumnya menteri-menteri mengeluarkan pernyataan yang aneh dalam menanggapi fenomena keluhan masyarakat, kini giliran presiden yang keluarkan statement nyeleneh.

“Sudah menteri nggak jelas. Ada menteri yang suruh rakyat diet karena harga beras mahal, ada menteri yang karena beras mahal, suruh. Cacing ditemukan di kaleng sarden, menteri bilang cacing banyak vitamin. Kini makin aneh bin ajaib menteri dan presidennnya,” tukasnya.

Pidato Joko Widodo di acara Musrembangnas penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4) cukup menggelitik.

Sebab, dalam pidato itu Jokowi memaparkan tentang komoditas yang paling mahal di dunia bukan emas, melainkan bisa kalajengking. Kata dia, bisa kalajengking ini berharga 10,5 juta dolar AS per liter atau jika dirupiahkan mencapai Rp 145 miliar per liter.

Atas alasan itu dia meminta kepada para kepala daerah untuk mengumpulkan racun kalajengking jika ingin kaya, ketimbang harus mengkorupsi uang rakyat.

“Pak gubernur, pak bupati, pak walikota kalau mau kaya cari racun kalajengking,” ujarnya. [ian]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya