Berita

Lukman-Andy/Net

Nusantara

Pemerintah Harus Dorong Driver Ttransportasi Online Punya Koperasi

SELASA, 01 MEI 2018 | 05:45 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Selain landasan hukum transportasi online yang belum duduk, pajak yang diterima negara dari perusahaan  penyedia aplikasi itu masih sangat minim yakni 1 persen.

Direktur Eksekutif Labor Institute Indonesia Lukman Hakim mengatakan penyedia aplikasi transportasi online dan turunannya harus mentaati aturan main di Indonesia khususnya soal pajak dan kesejahteraan driver.

"Penyedia aplikasi transportasi online harus tunduk dan wajib mentaati aturan main di Indonesia, dan harus bersikap kooperatif dalam mencari solusi saling menguntungkan," kata Lukman saat jumpa pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (30/4). Hadir bersama Lukman, Ketua Jakarta Transportation Watch (JTW) Andy William Sinaga.


Di sisi lain, kesejahteraan driver online harus dijamin pemerintah dengan memposisikan mereka sebagai pelaku UKM dengan kenderaanya kemudian mendorong dan membantu mereka membuat wadah usaha bersama berlandaskan kegotong royongan yaitu koperasi.

Sembari melarang koperasi yang sudah ada yang notabene bukan koperasi oleh dan untuk driver, menjadi wadah driver, karena sudah menyalahi prinsip-prinsip koperasi Indonesia. Sehingga hubungan dengan penyedia aplikasi sebagai mitra bisnis yang berhak mendapatkan keuntungan dari bisnis tersebut.

"Dari koperasi pemerintah juga dapat kontribusi pajak," terang Lukman.

Menurutnya, pemerintah harusnya lebih mendorong driver membuat koperasi sebagai penyelenggara transportasi seperti Kopami, Kowanbisata dan Kpaja, tapi berbasis IT.

"Hubungan bisnis selalu akan lebih menguntungkan daripada hubungan kerja atau mitra kerja," demikian Lukman.

Sementara itu, Andy William Sinaga menambahkan, Gojek dan Grab harus merupakan bentuk usaha tetap (BUT) yang menjadi subjek pajak karena telah meraup keuntungan bisni dari rakyat dan negara Indonesia.

Untuk itu, harus ada UU khusus yang mengatur transportasi online atau paling tidak UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan harus direvisi. Tidak cukup dengan peraturan menteri. [rus]

Populer

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

UPDATE

Progam Mudik Gratis Jadi Cara Golkar Hadir di Tengah Masyarakat

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:18

Kepemimpinan Intrinsik Kunci Memutus Kebuntuan Krisis Sistemik Bangsa

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:12

Sahroni Dukung Kejagung Awasi Ketat MBG Agar Tak Ada Kebocoran

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:07

Agrinas Palma Berangkatkan 500 Pemudik Lebaran 2026

Rabu, 18 Maret 2026 | 14:05

KPK Bakal Bongkar Kasus Haji Gus Alex di Pengadilan

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:35

Pemudik Boleh Titip Kendaraan di Kantor Pemerintahan

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:28

Kecelakaan di Tol Pejagan–Pemalang KM 259 Memakan Korban Jiwa

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:21

Contraflow Diberlakukan Urai Macet Parah Tol Jakarta-Cikampek

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:16

90 Kapal Lintasi Selat Hormuz Meski Perang Iran Masih Berkecamuk

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:15

Layanan Informasi Publik KPK Tetap Dibuka Selama Libur Lebaran

Rabu, 18 Maret 2026 | 13:11

Selengkapnya