Berita

Ilustrasi:Net

Politik

Calon Presiden Hanya Ada Tiga

JUMAT, 27 APRIL 2018 | 09:35 WIB | OLEH: SYAFRIL SJOFYAN

JIKA diamati secara seksama "kegaduhan" menuju Pilpres 2019, dengan batas waktu pencalonan pasangan Presiden pada bulan Agustus 2018, meminjam istilah Nana di Mata Najwa "Siapa Berani jadi Presiden" sampai sekarang baru ada tiga calon Presiden, yakni pertahana Jokowi melalui deklarasi Megawati pada Rakernas PDI Perjuangan di Bali, kedua Prabowo dengan menerima mandat melalui Rakernas Gerindra baru baru ini, dalam pengertian mandat tersebut Prabowo secara pribadi bisa menentukan sikap akhir tanpa melalui partai.

Calon ketiga adalah tokoh nasional Rizal Ramli, yang mengundang media nasional dan daerah ke rumahnya untuk deklarasi sebagai calon Presiden.

Mengenai nama-nama yang lain yang berseliweran di jagad raya Indonesia baik medsos maupun media mainstream jika diamati secara teliti belum ada pernyataan resmi dari yang bersangkutan mencalonkan jadi Presiden RI, hanya sekadar "kegenitan" lembaga survei membuat list atau daftar yang sudah didesain tertutup melalui survei mereka, makanya tidak heran setiap lembaga survei mempunyai daftar yang berbeda.


Berbeda dengan ketiga nama tersebut Rizal Ramli, Jokowi dan Prabowo, jika kita bedah satu persatu nama-nama yang muncul semua terarah kepada calon Wakil Presiden dan memang mereka bersosialisasi sebagai calon wakil presiden, seperti Muhaimin dengan kampanyenya JOIN (Jokowi-Cak Imin) gejala ini hanya ada di Indonesia, sesuatu yang tidak lazim di dunia termasuk di Amerika tidak pernah orang berkampanye sebagai wapres.

Sama dengan PKB, PKS dengan 9 calon menempatkan diri sebagai cawapresnya Prabowo termasuk PAN juga berharap demikian. Demikian juga Golkar, PPP, Ketua Umumnya tidak berharap jadi Presiden karena jauh sebelumnya sudah menyatakan dukungan kepada Jokowi sebagai Presiden, namun demikian partainya berharap tokoh dari Golkar yang disunting jadi wakil presiden.

Partai Hanura dalam Rakernasnya mencalonkan Wiranto menjadi Wapres, Partai Nasdem dari Rakernasnya lebih mengarah kepada Gatot Nurmantiyo sebagai cawapres, sehingga waktu itu Gatot dengan tegas menyatakan Jokowi harus dua periode. Sehingga bisa dimaklumi ketika dalam ILC TVOne tema #KudaHitam, Gatot berbicara tidak jelas apakah maju sebagai capres atau cawapres, tergantung rakyat dan Tuhan.

Calon lain yang dimunculkan lembaga survei seperti Agus Yudhoyono (AHY), Tuanku Guru Bajang (TGB), Susi Pudjiastuti, Mahfud MD dan lain-lain, hanya sekadar dimunculkan oleh lembaga survei dan fans (pendukung) mereka, belum ada kejelasan mereka sendiri mau maju.

Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan oleh masyarakat, secara jelas calon presiden melalui rakernas partai dan deklarasi tokoh secara formal hanya tiga tokoh yakni Rizal Ramli, Prabowo dan Jokowi.

Sedangkan daftar yang banyak mengemuka melalui medsos dan media mainstream, jika dihitung ada sekitar 21 nama, hanya berharap sebagai calon wakil presiden.

Pertanyaannya kenapa di Indonesia yang laku jabatan wakil presiden, jika mengacu kepada Amerika Serikat, wakil presiden hanya sebagai ban cadangan, diperlukan jika presiden berhalangan, bahkan resminya tidak ikut dalam rapat-rapat kabinet. Sementara di Indonesia jika dipelajari sejak M. Hatta sampai Megawati wapres juga sama fungsinya, kecuali zaman SBY, dimana ketika itu JK sebagai wapres menjadi real presiden.

Itulah Indonesia ada sesuatu yang tidak lazim menjadi ladang rebutan. [***]

Penulis adalah pengamat kebijakan publik, aktivis pergerakan 77-78

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya