Berita

Joko Widodo/Net

Politik

Elektabilitas Jokowi Tinggi, Kok Rupiah Ambruk

KAMIS, 26 APRIL 2018 | 16:26 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Gerindra angkat suara terkait hasil survei sejumlah lembaga. Dalam empat bulan terakhir, lembaga-lembaga survei menempatkan elektabilitas Joko Widodo tertinggi dari capres lainnya.

Terbaru, dua hari lalu, Litbang Kompas merilis elektabilitas Jokowi 55,9% dan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah Jokowi sebesar 72,2%.

"Selalu alasan tingginya elektabilitas Joko Widodo dihubungkan dengan tingkat kepuasan masyarakat yang cukup tinggi terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Joko Widodo," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono dalam pesan elektronik yang dipacarluaskannya, Kamis (26/4).

"Tapi anehnya kok nilai kurs dolar AS terhadap rupiah dalam empat bulan terakhir justru meningkat alias terjadi pelemahan rupiah yang sempat menembus kisaran Rp 14 ribu per dolar," sambung dia.

Arief menyebut elektabilitas Jokowi yang tinggi hanyalah elektabilitas jadi-jadian. Sebab nyatanya tidak direspons positif pasar keuangan dan modal.

Ambruknya rupiah kata dia menunjukan kegagalan kinerja ekonomi di era Jokowi. Ekspor nasional bergerak menurun sementara impor meningkat.

Sudah dapat dipastikan, tambah dia, kenaikan kurs dolar berdampak pada industri di Indonesia yang 80% kandungan bahan bakunya saat ini harus diimpor.

"Akan terjadi pengurangan produksi di sektor-sektor indutri dengan tingginya nilai dolar. Pengurangan produksi akan berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Artinya tingkat pengangguran nasional akan tinggi," kata Arief.

Dampak lain dari kenaikan dolar terhadap rupiah, kata dia, akan banyak proyek infrastruktur yang mangkrak.

"Nah sudah pasti program infrastruktur akan diserahkan ke pihak swasta karena negara sudah melewati batas limitasi untuk melakukan hutang kembali akibat meningkatnya hutang yang disebabkan naiknya dolar," tukas Arief.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya