Berita

Dwi Astuti Wulandari/Net

Nusantara

Dwi Astuti Sarankan P2TP2A Ada Di Setiap Kota Administrasi DKI

KAMIS, 26 APRIL 2018 | 08:48 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ternyata masih marak. Di DKI Jakarta, per Januari sampai awal Maret lalu, terjadi 169 kasus. Artinya, dalam sebulan, ada 57 kasus kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di DKI.

Fakta ini dibeberkan Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat MPR Dwi Astuti Wulandari saat sosialisasi Empat Pilar MPR di Gedung Serbaguna IPRIJA, Kelapa Dua Wetan, Jakarta timur, Rabu (25/4).

Sosialisasi itu dihadiri sekitar 150 orang, yang terdiri atas Babinsa, Ketua RT dan RW se Kelurahan Kepala Dua Wetan, para pengurus Pimpinan Anak Cabang dan Ranting Partai Demokrat Kecamatan Ciracas, dan wakil dari DPD Partai Demokrat DKI. Hadir juga Tim sukses Dwi Astuti yang tergabung dalam Koordinator Kecematan, Koordinator Kelurahan, dan Koordinator RW.


Data yang dibeberkan Dwi berasal dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pemprov DKI. Jika data tadi dirinci lagi, berarti ada dua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam sehari di Jakarta.

"Korban paling banyak ada di Jakarta Timur" tuturnya.

Modus kasus kekerasan ini semakin variatif. Mulai dari prostitusi online, perdagangan anak online, sampai game yang mengarah pada kekerasan atau berbau porno.

"Terkait hal tersebut, harus ada upaya ekstra dari Pemerintah. Contohnya, meningkatkan sinergitas kepada para pemangku kepentingan," jelasnya.

Untuk Pemprov DKI Jakarta, Dwi menyarankan membentuk P2TP2A di seluruh kota administrasi. Sebab, yang sekarang baru ada di tingkat provinsi.

Mengenai Empat Pilar MPR, Dwi menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasilan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pancasila harus dijadikan sebagai pondasi hidup dalam berprilaku.

"Terkait hal tersebut, bahwa kerukunan hidup beragama yang sudah terjalin selama ini, harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita terprovokasi atau terpengaruh ucapan-ucapan segelintir orang yang punya tujuan lain. Bisa jadi tujuan orang tersebut hanya untuk kepentingan sendiri atau golongannya, bukan kepentingan bangsa dan bernegara," tandasnya. [rus]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya