Berita

Diskusi KPPI/Net

Politik

Kapasitas Kader Perempuan di Parpol Dipertanyakan

RABU, 25 APRIL 2018 | 01:50 WIB | LAPORAN:

Keterwakilan perempuan di parlemen, yang diterapkan sejak pemilu 2004 melalui UUD Pemilu terbilang masih stagnan.

Untuk itu, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) terus mendorong keterwakilan perempuan melalui political will.

Ketua Umum KPPI, Dwi Septiawati Djafar menegaskan telah melakukan roadshow dengan ketua umum parpol untuk menjelaskan pentingnya memberikan ruang yang lebih luas kepada perempuan kader di masing-masing parpol.


"Untuk mendapatkan posisi yang baik dalam pencalegan, nomor urut yang baik misalnya, juga dapil yang baik, ini lebih pada satu political will. Tidak ada paksaan karena tidak merupakan anjuran UUD," terang Dwi di Kantor ILEW, Jl. Veteran 1 No.33 Gambir, Jakarta Pusat dalam diskusi bertajuk Perempuan & Politik. Selasa, (24/4).

Tak hanya itu, KPPI juga terus berupaya dengan melakukan penguatan kapasitas kader perempuan parpol. Pasalnya salah satu faktor di pertarungan pemilu saat ini adalah popularitas dan elektabilitas.

"Perempuan cenderung sulit untuk bisa sampai pada keduanya. Karena membutuhkan biaya yang besar," tuturnya.

Untuk itu menurutnya, guna mendapatkan keduanya tersebut perempuan kader parpol juga harus membangun jejaring dengan masyarakat sipil. Teknisnya, melalui basis-basis kultural, dan perempuan-perempuan penggerak di organisasi massa.

"Kan popularitas bukan tidak hanya tampak di media sosial. Namun ketika dia di masyarakat juga dikenal sebagai orang yang banyak terjun. Itu kan juga bisa jadi satu modal," tukasnya.

"Basis sosial yang akan mendorong dia, dimana dukungan sosial bisa dikapitalisasi menjadi dukungan politik. Nah, ini yang para perempuan-perempuan parpol mulai menghitung bahwa basis sosial yang dia miliki dengan jejaringnya itu harus bisa dikapitalisasi menjadi dukungan politik untuk dirinya. Jadi jangan hanya dimanfaatkan basis sosialnya untuk menjadi dukungan politik bagi caleg lain atau caleg laki-laki lain," tutupnya. [sam]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya