Berita

Politik

Waspadai Mafia Pangan Gunakan Media untuk Giring Opini Publik

SELASA, 24 APRIL 2018 | 22:27 WIB | LAPORAN:

Tindakan tegas Kementerian Pertanian (Kementan) menangani tata niaga pangan jadi sorotan. Banyak pihak mendukung dan memberi acungan jempol pada langkah menyelesaikan benang kusut tata niaga pangan. Seperti diketahui bisnis pangan banyak terjadi anomali dan kejanggalan, diduga akibat ulah kartel dan mafia pangan.

Langkah strategis Kementan bersama Polri dan KPPU membentuk Satgas Pangan, menugaskan KPK berkantor di Kementan, maupun menggandeng BPKP, Kejagung dan lainnya mengawal program pertanian agar tata kelola pangan semakin membaik. Kini Satgas Pangan telah memproses lebih dari 200 kasus pangan. KPPU telah menindak kartel daging, telur, ayam dan lainnya. Bahkan lebih dari 40 kasus pengoplos pupuk diproses hukum.

Pengamat politik dan komunikasi Hendri Satrio mengatakan bahwa besar kemungkinan ada pihak-pihak yang merasa terganggu dari kenyamanan yang mereka nikmati dari bisnis pangan selama ini.


"Mungkin ada juga yang tidak berkenan bila Indonesia swasembada pangan termasuk industri media," ungkap Hendri yang juga dosen Paramadina ini dalam rilis yang diterima redaksi hari ini, Selasa (24/4).

"Saya mengamati ada beberapa media yang pemberitaannya seperti berkolaborasi dengan mafia padahal katanya mendukung pemerintah. Berita-berita dan ulasannya cenderung mendukung kelompok tertentu. Apakah mungkin kelompok-kelompok ini adalah mafia pangan? Bila benar mafia harus segera diberantas. Kita harus waspada terhadap kemungkinan mafia pangan gunakan media untuk giring opini publik," sambung dia.

Dalam rangka revolusi mental dan bersih-bersih di Kementan, lanjut Hendri, media-media-media itu aktif memberikan opini dan pemberitaan bersebrrangan tentang kebijakan pertanian.

"Padahal saya amati program Kementan itu pro-petani dan pola-pola tender pun diubah menjadi penunjukan langsung, sehingga yang dicitrakan mafia proyek gigit jari. Mentan ini memang tidak tebang pilih. Ada yang korupsi atau suap langsung dimutasi dan bahkan dicopot karena korupsi dan suap. Jumlahnya juga banyak," tambahnya.

Berkaitan dengan sorotan tajam program swasembada bawang putih dianggap hanya main-main dan buang-buang uang serta tidak jelas arah dan kebijakannya.

"Itu mungkin bersumber dari pihak yang suka impor, tidak suka swasembada.  Kalau untuk kelompok ini, Menteri Amran harus tegas berantas," jelasnya.

Hendri mengharapkan ada dukungan dari media terkait berbagai usaha pemerintah untuk swasembada.

"Kita harus berhenti tergantung pada impor. Bawang putih, garam, gula, daging semua masih impor, padahal negara ini negara kaya. Kalau kita mampu produksi sendiri, buat apa kita impor," imbuh dia.

Menurut Hendri, pers Indonesia harus diselamatkan dari hegemoni pemilik modal. Kalau tidak berarti benar bahwa indeks kebebasan pers internasional 2017 yang dilansir RSF menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 180 negara. Posisi Indonesia lebih rendah di bawah Timor Leste.[dem]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya