Berita

Bambang Soesatyo/Net

Politik

Dewan Dorong Pemerintah Ambil Alih Ruang Udara Natuna Dari Singapura

SELASA, 24 APRIL 2018 | 01:08 WIB | LAPORAN:

Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Pemerintah segera mengambil alih kawasan ruang udara (Flight Information Region/FIR) di Natuna dari tangan Singapura. Sebab, FIR di Natuna ini sangat diperlukan untuk memperkuat pengawasan kegiatan di ruang udara perbatasan Indonesia.

FIR Natuna dikuasai sejak 1946, atau satu tahun setelah Indonesia merdeka. Atas penguasaan ini, pesawat Indonesia yang terbang ke kawasan tersebut harus melapor ke otoritas Singapura. Sesuai UU Nomor 1/2009, pengambilalihan dapat dilakukan pada 2024. Namun, Presiden Jokowi menginginkan agar pengambilalihan itu dipercepat menjadi 2019.

Politisi yang akrab disapa Bamsoet ini, kemarin (Senin, 23/4), melakukan kunjungan kerja ke Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Dia datang bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Ketua DPD Oesman Sapta, Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni, Kapuspen TNI Mayjen Sabrar Fadhilah, Danjen Kopassus Mayjen TNI Eko Margiyono, dan Pangkostrad Letjen TNI Agus Kriswanto.


Rombongan Bamsoet dan Panglima ini datang ke lokasi dengan menumpang Pesawat Boeing 737-400 VIP TNI AU. Begitu tiba di Perairan Kepulauan Natuna, pesawat yang ditumpangi Bambang Cs langsung dikawal empat pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Pengawalan berlangsung sampai Lanud Raden Sadjat Ranai, Kepulauan Natuna.

Bamsoet mendukung keinginan Jokowi agar FIR di Natuna bisa segera diambil alih. "FIR Natuna ini harus secepatnya dikuasai Indonesia. Masalah FIR ini tidak hanya menyangkut keselamatan penerbangan, tetapi juga menyangkut kedaulatan negara,” tegasnya.

Dia kemudian mengingatkan bahwa wilayah perbatasan telah menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Paradigma pembangunan wilayah perbatasan ini harus didasarkan pada dua hal, keamanan dan kesejahteraan. Makanya, pengambilalihan FIR dari Singapura amat penting. Dia juga mendukung pembangunan pangkalan militer di Natuna.

"Keamanan wilayah Indonesia, salah satunya ditentukan kondisi keamanan di wilayah perbatasan. Karena itu, keberadaan pangkalan militer di Natuna sangat penting. Selain di Natuna, tak menutup kemungkinan kita juga akan bangun dan perkuat pangkalan militer di berbagai pulau terluar wilayah Indonesia," ucapnya.

Bamsoet mengagumi masterplan pembangunan pangkalan militer Natunan yang rencananya dilengkapi berbagai peralatan tempur super canggih. Hal ini membuktikan keseriusan Pemerintah dalam menguatkan sistem pertahanan dan keamanan negara.

"Tentu, pembangunan pangkalan militer tak akan mengesampingkan pembangunan berbasis kesejahteraan di wilayah Natuna. Di sini sudah ada Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) di Selat Lampa, yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2016. Dengan total luas lahan 16,8 hektar, saya yakin SKPT mampu mendongkrak kesejahteraan penduduk Natuna yang banyak berprofesi sebagai nelayan,” tutur Bamsoet.

Bamsoet memastikan, DPR mendukung penuh pembangunan wilayah perbatasan di berbagai pulau terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Buktinya, DPR sudah membentuk Tim Pengawas Pembangunan Daerah Perbatasan.

"Dalam berbagai kajian dan hasil kunjungan ke wilayah perbatasan Indonesia, Tim telah menelaah berbagai permasalahan yang ada. Kami juga sedang mengkaji usulan apakah Badan Nasional Pengelola Perbatasan, yang kini satu atap dengan Kementerian Dalam Negeri, bisa dilepas menjadi badan tersendiri. Dengan begitu, nantinya bisa lebih fokus dalam pembangunan wilayah perbatasan," ujar Bamsoet.

DPR juga terus mendukung dari segi anggaran. Dalam APBN 2017, DPR RI telah menggelontorkan Rp 1,61 triliun dengan melibatkan 18 kementerian/lembaga untuk menyukseskan berbagai program terpadu daerah perbatasan.

"Problematika wilayah perbatasan memang sangat kompleks. Namun, semua itu tidak akan menyurutkan langkah dalam membangun dan memperkuat wilayah perbatasan kita. Dengan kerja sama yang solid antara DPR dan Pemerintah, saya yakin pembangunan di berbagai wilayah perbatasan dapat terlaksana secara cepat dan tepat,” pungkas Bamsoet. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya