Neoliberalisme adalah jalan untuk meningkatkan kemiskinan. Selama menjalankan sistem tersebut, negara tak akan mampu keluar dari kubangan kemiskinan.
"Ciri neolib adalah peranan negara harus ditiadakan sekecil-kecilnya atau tidak ada sama sekali, termasuk dalam menentukan harga kebutuhan dasar," terang ekonom senior DR Rizal Ramli, di kediamannya di kawasan Bangka, Jakarta Selatan, Senin (23/4).
Rizal menyampaikan hal itu ditemani ekonom yang juga anti neolib Kwik Kian Gie. Keduanya sempat makan siang bersama sebelum memberikan penjelasan kepada media.
Paham neolib, kata mantan penasihat ekonomi PBB ini, menghendaki seluruh kegiatan ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar bebas. Sehingga harga kebutuhan-kebutuhan dasar cenderung mengikuti harga dunia.
Sistem perekonomian Indonesia, kata dia, dalam dua dekade terakhir mengarah kepada neoliberalisme. Hal ini juga sudah diprediksi oleh founding fathers mengenai adanya neokolonialisme dan imperialisme.
"Jadi kita terus bergantung dengan utang, subsidi dipotong dan harga kebutuhan dasar dinaikan," tegasnya.
Menurut dia jika harga barang-barang mewah seperti barang elektronik dan mobil mengikuti harga dunia tak jadi masalah, asalkan jangan kebutuhan pokok seperti pangan.
"Buat apa kita gagah-gagahan potong subsidi biar dibilang berani oleh negara lain, akhirnya bikin rakyat sengsara," ucap RR.
Kenaikan harga itu, lanjutnya tidak diiringi dengan meningkatnya pendapatan rakyat. Menurut data yang ada, saat ini pendapatan rakyat Indonesia di bawah standar internasional.
"Pendapatan kita sepersepuluhnya Korea dan ekonomi kita tidak pernah tumbuh di atas 6,5%. Inilah jalan untuk meningkatkan kemiskinan rakyat," tutupnya.
[dem]