Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli Jelaskan Program 100 Hari Pertama, Sandiaga Uno Tertarik Pulau Malaria

SABTU, 21 APRIL 2018 | 00:17 WIB | LAPORAN:

Aktivis pergerakan yang juga ekonom senior, Rizal Ramli telah mengantongi sejumlah program dan trobosan dalam seratus hari pertama pemerintahan jika terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.

Hal itu disampaikan langsung saat berdialog dengan Sandiaga Salahuddin Uno selaku Ketua Tim Pemilihan Calon Wakil Presiden Partai Gerindra, Prabowo Subianto di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (20/4).

"Kami sampaikan hari pertama kami jadi presiden saya akan tangkap 100 orang paling brengsek di Indonesia. Kita buang ke pulau (terpencil yang banyak wabah penyakit) malaria di Indonesia," katanya.


Menurutnya, langkah tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pelanggaran HAM, sebab, dirinya hanya memindahkan seratus orang tersebut ke daerah lain. Jika mereka bisa mengembangkan daerah tersebut, maka orang-orang tersebut bisa menebus kesalahan terhadap negara ini. Namun jika seratus orang "brengsek" itu meninggal dunia akibat penyakit malaria, hal tersebut bukanlah pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah.

"Yang melanggar hak asasi manusia kan bukan Rizal Ramli tapi nyamuk malaria," jelasnya dengan nada bercanda.

Pada hari kedua menjabat, RR berencana mengeluarkan sebuah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) atau Keputusan Presiden (Keppres) supaya partai politik seluruhnya dibiayai oleh negara.

Tidak seperti sekarang ini, partai politik harus mencari dana sendiri, hal tersebut justru merusak demokrasi. Bahkan menghasilkan demokrasi kriminal. Menurutnya demokrasi kriminal hanya membawa kesejahteraan pada sebagian kecil kaum elit.

"Kita harus ubah ke demokrasi yang amanah yang bekerja untuk rakyat sehingga membawa kemakmuran untuk semua. Jadi kita tinggalkan gaya Amerika ini gimana partai politik nyari duit sendiri orang kaya banyak bisnis banyak mereka nyumbang kita nggak ada duit partai politik nyolong di pemerintahan kita ikuti sistem Eropa sistem yang juga berlaku di Inggris, Australia, New Zealand partai politik seluruhnya dibiayai negara," ujarnya.

Kemudian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian era Presiden RI Abdurahman Wahid alias Gus Dur ini juga mengaku ingin mengembalikan kejayaan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

"Dulu yang berkuasa di ASEAN de facto Pak Harto, habis itu diambil alih oleh Lee Kuan Yew (Perdana Menteri Singapura). Negara kecil tapi dianggap sebagai pemimpin ASEAN sehingga dia ke Beijing ke Moskow ke Washington dianggap sebagai pemimpin Asia. Kami ingin 2019 kita ambil alih kepemimpinan ASEAN secara de facto karena kita memanfaatkan ASEAN untuk ekspansi ekonomi," urainya.

Hal itu menurutnya sangatlah mungkin dilakukan. Dia pun menceritakan pengalamannya membenahi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang hampir bangkrut.

"Saya kepala Bulog disuruh benahi IPTN. Restrukturisasi utang kita bikin profitable. Nah saya pada waktunya kita ingin jual 35 persen saham dari Dirgantara kepada ASEAN bukan untuk dapat duit tetapi sebagai alat untuk marketing ya. Karena orang Indonesia pintar bikin barang kita bikin apa marketing payah saya jual 5  sama Laos segala macam sehingga ketika mereka membeli pesawat sipil maupun militer mereka beli dari PT Dirgantara Indonesia demikian juga dengan PT PAL dan lain-lain," bebernya.

Langkah berani itu tekan RR haruslah diambil orang yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat kuat.

"Kami gembira Pak Sandi wawasannya luas dan macam-macam. Kita diskusi dari awal, tapi yang Mas Sandi paling tertarik dari semuanya yaitu pulau malaria," tutup RR. [nes]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya