Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Jokowi Diingatkan, Pemerintahan Sentralisasi Bisa Bikin Indonesia Hilang

MINGGU, 15 APRIL 2018 | 03:29 WIB | LAPORAN:

Pemerintahan di era Presiden Joko Widodo ini belumlah berubah bagi kemajuan masyarakat Indonesia di daerah-daerah. Nyatanya, pengelolaan pemerintahan dan pengelolaan negara masih saja sentralistik, tidak beda dengan era presiden-presiden Indonesia terdahulu.

Ketua Umum Dewan Ekonomi Indonesia Timur (DEIT) Annar S Sampetoding mengatakan, meski di era Jokowi ini sudah ada perubahan, seperti dalam hal penyampaian aspirasi tidak melulu melalui lembaga-lembaga seperti Lemhanas atau lembaga lainnya, namun sentralisme pemerintah dan negara masih bercokol kuat.

Pola pengelolaan yang sentralistik ini, menurut Annar, tidak akan membawa banyak manfaat bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah.


"Memang pemerintahan sekarang pemikirannya lebih kongkrit dan efisien, tidak melulu harus lapor lembaga ini itu lagi, karena masalah Iindonesia semakin hari semakin kompleks. Tetapi, Pemerintah Pusat saat ini pun tidak mau berubah. Indonesia ini terlalu luas hanya diatur Jakarta saja,” tutur Annar S Sampetoding kepada redaksi, Sabtu (14/4).

Memang, lanjut dia, adanya pro kontra dari prediksi yang menyebut bahwa Indonesia bisa bubar jika masih dikelola secara sentralistik, perlu dipikirkan secara obyektif.

Sebab, lanjut Annar, meski diakui bahwa sosok Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia cukup disenangi oleh sebagian besar masyarakat, namun warning yang sempat dilontarkan Prabowo Subianto soal Indonesia bubar 2030 juga tidak boleh dianggap remeh.

"Saya setuju dengan warning Prabowo untuk kita ambil dari sisi positifnya,” ujarnya.

Bagi Annar, warning itu juga sebagai peringatan bagi Pemerintah Pusat hari ini, bahwa kalau sistim pemerintahan sentralisasi dipertahankan seperti ini terus, Indonesia akan hilang.

"Seperti nasibnya Uni Soviet dan lainnya,” ujar Annar.

Sebagai seorang pengusaha yang berasal dari Kawasan Indonesia Timur, lanjut Annar, dia sering melihat langsung ketimpangan yang jauh antara Pulau Jawa, khususnya Jakarta dengan kondisi di daerah-daerah.

"Di Indonesia Timur sangat merasakan ketimpangan,” ujarnya.

Dia pun memperingatkan, walau sebanyak apapun uang yang dimiliki Indonesia, jika pengelolaannya tidak merata dan tidak adil karena masih menerapkan sentralisme, maka semua itu hanya kesia-siaan saja, takkan sanggup menyejahterakan masyarakat.

"Biar uang satu gunung membangun infrastruktur, tetapi kalau perihal yang prinsip tidak berubah, ya sama dengan membuang garam di laut,” ujarnya.

Dia mengaku, pada awal pemerintahan, Annar berada dalam satu garis seperjuangan dengan Jusuf Kalla, untuk membangun Kawasan Indonesia Timur yang lebih baik dan lebih sejahtera masyarakatnya.

"Saya sudah sejak 1989 bersama Pak Jusuf Kalla, seperjuangan untuk perubahan Indonesia Timur, tetapi setelah beliau menjadi Wakil Presiden, ya terlupa perjuangan kita bersama,” demikian Annar. [sam]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya