Berita

Tjahjo Kumolo/Net

Politik

Kader PDIP Ini Juga Punya Sebutan Buat Koalisi Partai Kalah

SABTU, 14 APRIL 2018 | 20:13 WIB | LAPORAN:

Politisi PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo tidak menilai penilaian Amien Rais mengenai dua kubu dalam partai politik di Indonesian logis dalam dinamika politik.

Menurutnya, sebelum ada dikotomi partai setan dan partai Allah ada juga dikotomi partai besar dan partai kecil. Termasuk partai pemenang dan partai yang kalah.

"Munculnya terminologi parpol Allah dan partai setan, atau parpol besar dan parpol kecil sah dalam demokrasi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/4).


Tjahjo menjelaskan terminologi partai kalah, menang, besar dan kecil ini biasanya muncul pasca pemilihan umum. Dari sana jugalah kemunculan sebuah koalisi pemerintah dan koalisi opisisi.

Tjahjo juga tidak masalah jika partai kalah dalam pemilu itu berkumpul menjadi sebuah koalisi bersama. Untuk itu ia punya sebutan sendiri yakni Partai Kalahan Indonesia.

"Partai menang membentuk koalisi pemerintahan. Sedangkan partai kalah silahkan membentuk koalisi oposisi dalam ranah partai kalah. Itu sah dalam demokrasi," ujar Tjahjo.

Sebelumnya Ketua Penasihat Persaudaran Alumni 212 dan Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais membagi dua golongan partai politik yang ada di Indonesia yakni partai setan dan partai Allah.

Amien menyebut PAN, PKS, dan Gerindra masuk sebagai partai Allah. Sementara itu, partai besar masuk dalam partai setan. Namun Amien tak mau memberikan jawaban rinci mengenai siapa saja partai setan. Bahkan Amien mengelak bahwa yang ia maksud adalah partai setan itu merupakan partai tertentu, melainkan hanya sebatas cara berpikir.

Pembagian partai menjadi dua golongan itu disampaikan Amien saat tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4). [nes]


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya