Berita

Foto/Net

Dunia

Aparat India Tembak Mata Pemuda Kashmir

Gunakan Peluru Tajam Sebagai Peringatan
JUMAT, 06 APRIL 2018 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Warga Pakistan yang tinggal di wilayah pertikaian Kashmir, Mohsin Nabi tengah dirawat di rumah sakit akibat serangan peluru panas kepolisian India.

 Dia ditembak saat tengah berjalan-jalan santai menuju Kachodra bersama teman-te­mannya. Nabi mengatakan, sekelompok pasukan India mem­berondong anak muda dengan peluru tajam tanpa alasan.

Kejadian itu terjadi Minggu (1/4). Saat itu, desa Kachodra, dekat perbatasan Kota Shopian, Kashmir, tengah menjadi bulan-bulanan serangan peluru tajam personel India. Setidaknya 19 tewas dalam insiden itu. Empat korban tewas di antaranya ada­lah warga sipil.


Lokasi Nabi dirawat, Rumah Sakit Shri Maharaja Hari Singh (SMHS) kelebihan pasien, mayoritas korban tembakan dengan luka di wajah, terutama mata. Petugas mengatakan, 41 pemuda dirawat di rumah sakit itu.

"Kami tidak melakukan tinda­kan yang memprovokasi. Kami bahkan berteriak kalau kami hanya remaja biasa. Tapi berondongan tembakan dimuntahkan polisi. Sembilan anak-anak sebaya saya terkena tembakan," ujar Nabi.

Serangan membabi buta ini membangkitkan kenangan war­ga Pakistan yang berada di per­batasan dengan Kahmir. Insiden penembakan anak muda dengan menyasar wajah dan mata makin meningkat setelah kematian pemimpin pemberontak Kash­mir Burhan Wani pada 2016.

Pembunuhan Wani oleh mili­ter India dinilai berlebihan dan menentang prikemanusiaan.

Ribuan warga memprotes sebulan penuh kepada pemerin­tah India. Sebagai balasan, India mengerahkan pasukan bersen­jata dan menembaki pendemo. Kebanyakan luka diderita di wajah dan mata.

Kini, serangan brutal kepada remaja di perbatasan Kashmir seolah membangkitkan kenge­rian momen dua tahun lalu.

Anak-anak menjadi waswas saat keluar rumah. Sekolah pun menjadi sepi karena para orang tua melarang anak mereka masuk sekolah.

Mereka menduga polisi India sengaja menyasar mata para anak muda agar mereka kehilangan masa depan karena tidak lagi bisa beraktivitas setelah menjadi buta.

"Kebanyakan luka tidak mem­bahayakan nyawa. Hanya saja, luka ini membuat mayoritas pasien menjadi buta permanen," ujar seorang dokter bedah mata.

"Dalam dua tahun terakhir, saya merawat lebih dari 1.000 pasien yang kebanyakan memang anak muda. Mereka disasar matanya," ujar dokter bedah mata lagi.

Adil Sheikh bernasib serupa dengan Nabi.

"Saya pergi berbelanja dan saat pulang, saya ditembaki," kenang Sheikh.

Luka Sheikh lebih parah dari Nabi. Wajah sebelah kirinya membengkak akibat infeksi luka. Dia bahkan sulit berbicara.

Suasana rumah sakit SHMS terasa seperti dua tahun lalu. Kelompok HAM internasional memprotes sikap pemerintah In­dia yang cuek dengan insiden ini. Amnesty International mendesak personel militer India untuk tidak menggunakan peliru tajam da­lam memberikan peringatan.

"Peluru mereka sudah memati­kan masa depan putra-putra kami. Mereka ingin membungkam kami dengan peluru mereka," ujar Hanifa, ibu yang putranya buta akibat serangan peluru tajam.

"Mereka bukan menembak kaki, tangan atau perut. Mereka hanya menyasar mata," sam­bung Hanifa sedih.

Kepala keamanan di kawasan Shopian, Ambarkar Shriram Dinkar, menyebut pasukannya tidak mungkin sengaja menem­baki anak-anak.

"Kebanyakan mereka korban peluru nyasar. Makanya kami menyarankan mereka untuk tidak bermain di kawasan yang disengketakan," pungkas Din­kar.  ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya