Berita

Rizal Ramli/Dok

Politik

Rizal Ramli Ke Makam Bung Hatta: Petani, Nelayan, Buruh, Harus Dibela Dengan Koperasi

JUMAT, 30 MARET 2018 | 15:31 WIB | LAPORAN: ARIEF GUNAWAN

Menggenapi ziarah ke makam Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan RI Sukarno-Hatta, tokoh nasional Dr. Rizal Ramli Jumat pagi tadi berziarah ke makam Bung Hatta, di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kedatangan Rizal Ramli ke makam Bung Hatta bertepatan dengan bulan wafatnya Bung Hatta, yaitu Maret. Seperti diketahui Bung Hatta mangkat di Jakarta pada 14 Maret 1980. Sebelumnya Rizal Ramli telah menziarahi makam Bung Karno di Blitar pada 16 Maret lalu.

Kunjungan ziarah ke makam Dwitunggal Proklamator RI ini adalah untuk yang kesekiankalinya dilakukan Rizal Ramli sebagai penghormatan kepada kedua tokoh yang merupakan Bapak Bangsa.


Rizal Ramli yang juga ekonom pro kerakyatan dan anti perekonomian liberal seperti halnya Bung Hatta tafakur memanjatkan doa kepada Allah SWT semoga cita-cita Bung Hatta tentang keadilan dan kemakmuran bangsa dapat terwujud.

Menurut Rizal, Bung Hatta memahami betul dampak ugal-ugalan dan betapa merusaknya perekonomian dengan sistem liberal-kapitalistik, karena pada saat kuliah ekonomi di Roterdam, Belanda sekitar tahun 1920-an Eropa sedang dilanda resesi ekonomi yang sangat dahsyat, yang menyebabkan kemiskinan, dan pengangguran yang tinggi.

"Itu semua akibat kapitalisme dan liberalisme yang ugal-ugalan, dan itu pula yang menyebabkan Bung Hatta mencari jalan lain untuk merumuskan ekonomi Indonesia, yaitu antara lain konsepsi berupa koperasi,"’ papar Rizal Ramli.

Saat di Belanda Bung Hatta mempelajari sistem perekonomian di sejumlah negara Eropa seperti Skandinavia dan juga termasuk Belanda, di mana tingkat keadilan sosial rakyat di kedua negara ini sampai hari ini termasuk paling tinggi di dunia. Lebih baik daripada Amerika.

Dikemukakan, Bung Hatta juga merumuskan bahwa ada sistem korporasi untuk rakyat biasa, tidak hanya untuk perusahaan besar atau swasta yang besar-besar saja. Bung Hatta, kata Rizal, memikirkan konsepsi korporasi untuk rakyat kecil seperti petani, nelayan, buruh, yang bisa membentuk apa yang dinamakan sebaga koperasi yang sahamnya dimiliki oleh semua anggotanya.

Hal ini, lanjut Rizal, berbada dengan perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh beberapa orang. Koperasi, kata Rizal , manajemennya sangat terbuka dan transparan dan jika ingin berkembang dengan maksimal menghasilkan kesejahteraan para anggotanya maka harus dikelola secara profesional.

"Pengurusnya harus amanah. Jangan nilep, mentang-mentang azas koperasi adalah kekeluargaan," ucap Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu.

Kenapa konsepsi koperasi di Indonesia tidak berkembang baik?

Menurut Rizal, peran koperasi masih sangat kecil karena pemerintah belum bersungguh-sungguh mengembangkan koperasi. Padahal banyak contoh keberhasilan koperasi seperti di Skandinavia dan Belanda dimana koperasi peternak susu mampu punya pabrik sendiri, punya jaringan distribusi sendiri, dan toko-toko di seluruh Eropa untuk menjual produk mereka.

Keuntungan atau manfaat lain dari koperasi bagi para anggotanya, antara lain anggota dapat membeli barang lebih murah, mendapatkan deviden setiap tahun, dan menguntungkan konsumen karena produk koperasi lebih murah daripada produk perusahaan besar.

"Tetapi di Indonesia koperasi hanya dijadikan slogan, dijadikan kembang kata. Tidak diyakini sebagai konsep yang bisa meningkatkan kesejahteraan para anggotanya," tegas Rizal.

Dia mencontohkan, koperasi beras misalnya dapat menjadi bisa bila bekerjasama dengan Bulog, menjadi jaringan distribusi alternative. Demikian juga petani bawang, petani tebu.

"Ini akan membuat koperasi sangat besar dan kredibel. Dipercaya menguntungkan anggota dan konsumen," ujarnya.

Rizal Ramli menekankan, mudah-mudahan pada 2019 mendatang cita-cita Bung Hatta bisa dilaksanakan secepat mungkin, sehingga pikiran besar beliau betul-betul merupakan jalan untuk membuat rakyat kita makmur dan sejahtera.[wid]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Roy Suryo: Gibran Copy Paste Jokowi Bahkan Lebih Parah

Kamis, 30 April 2026 | 01:58

Kompolnas dan Agenda Reformasi Aparat Sipil Bersenjata

Kamis, 30 April 2026 | 01:45

Polemik Dugaan Suap Pendirian SPPG di Sulbar Dilaporkan ke Polisi

Kamis, 30 April 2026 | 01:18

HNW: Bila Anggota OKI Bersatu bisa Kendalikan Urat Nadi Perdagangan Dunia

Kamis, 30 April 2026 | 00:55

Menhan: Prajurit jadi Motor Pembangunan Selain Jaga Kedaulatan

Kamis, 30 April 2026 | 00:37

Satgas OJK Blokir 951 Pinjol Ilegal Ungkap Deretan Modus Penipuan Keuangan

Kamis, 30 April 2026 | 00:19

Investasi Bodong dan Bias Sistem Keuangan

Rabu, 29 April 2026 | 23:50

Pelaporan SPT 2025 Masih di Bawah Target Jelang Deadline

Rabu, 29 April 2026 | 23:36

Komunikasi Publik Menteri PPPA Absurd dan Tidak Selesaikan Persoalan!

Rabu, 29 April 2026 | 23:09

Pemanfaatan Listrik Harus Maksimal Dongkrak Kemandirian Desa

Rabu, 29 April 2026 | 22:43

Selengkapnya