Berita

Foto: RMOL

Politik

Rizal Ramli: Kun Fayakun, Man Jadda Wajada

SELASA, 27 MARET 2018 | 16:39 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli hadir memenuhi undangan rapat koordinasi buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, Pertambangan, Minyak Gas Bumi dan Umum (FSPKEP), di Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/3).

Di hadapan pengurus pusat, provinsi dan kabupaten FSPKEP, Rizal sempat mengemukakan peluangnya diusung partai politik sebagai calon presiden di Pilpres 2019.

"Jika Allah menghendaki, Dia berkata Kun fayakun (jadi maka jadilah). Man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)," ucap Rizal mengutip ayat Al Quran dan ungkapan Arab.


Rizal mengungkapkan alasan mencalonkan diri karena ingin membangun perekonomian Indonesia yang selama ini stagnan di kisaran 5%. Capaian ekonomi sebesar ini, kata dia, tidak cukup menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menyebabkan daya beli lemah dan kemiskinan sulit ditekan.

"Ekonomi Jepang tumbuh 12% selama 20 tahun setelah perang dunia kedua. Pertumbuhan ekonomi China bisa 12% dalam 20 tahun lebih. Insyaallah kami genjot pertumbuhan ekonomi di atas 10% dalam 5 tahun," paparnya.

"Jika ekonomi tumbuh di atas 10 persen, pendapatan perkapita tahun 2019 dari 4 ribu dolar akan kita naikan minimum jadi 7 ribu dolar. Dengan pertumbuhan ekonomi dua kali lipat dari hari ini maka lapangan kerja jadi banyak," sambung Rizal disambut tepuk tangan pengurus FSPKEP.

Rizal menekankan bahwa Indonesia bisa menjadi negara makmur, hebat dan disegani negara lain. Banyak cara untuk bisa mewujudkannya. Syarat terpenting adalah tidak mengikuti model pembangunan yang disodorkan Bank Dunia dan IMF.

Rizal menceritakan saat dirinya masuk kabinet era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Menko Ekuin dan Menkeu, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3%. Namun dalam kurun 21 bulan, ekonomi mampu digenjot jadi plus 4,5% atau naik 7,5%, ekpor naik 200%, harga beras stabil tanpa impor, dan gaji PNS naik 2 kali dengan total kenaikan 125%.

Jika pertumbuhan naik harusnya hutang bertambah. Ini tidak terjadi ketika era pemerintahan Gus Dur. Logika seperti itu, kata Rizal, logika ekonom konservatif yang manut saran-saran Bank Dunia.

"Ekonomi itu bukan sekedar hitung-hitungan teknis, tapi harus ada keberpihakan. Setiap policy jelas ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Kalau hanya menaikkan harga gampang, tidak perlu sekolah. Banyak cara kok, harga tidak naik tapi cost turun," kata Rizal.

Saat menjabat Menko Ekuin dan Menkeu, yang dilakukan Rizal justru mengurangi hutang nego minus 4,15 miliar dolar. Salah satu caranya menukar hutang dengan konservasi hutan.

"Seperti dengan Jerman kami tukar beberapa ratus dolar. Kami juga tukar hutang bunga mahal dengan hutan bunga murah dengan Kuwait. Kuwait senang Indonesia bisa melunasi hutang. Menkeunya datang ketemu saya, tanya mau hadiah apa. Saya bilang Bandung macet, makanya dibangun fly over Pasopati. Itu dibangun Kuwait, gratis," kata Rizal lagi.

Dia juga menekankan Indonesia bisa berubah jika kepemimpinan model pencitraan ditinggalkan. Menurut mantan penasihat ekonom Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini sudah seharusnya kompetisi kepemimpinan yang berlaku di Indonesia adalah kompetisi gagasan.

"Dengan begitu pemimpin Indonesia adalah pemimpin yang amanah, berintegritas, dan kaya gagasan. Pemimpin yang membuat pembangunan dinikmati 40 persen rakyat ekonomi bawah, bukan hanya dinikmati 20 persen kalangan atas," tukasnya. [sam]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya