Berita

Foto/Net

Bisnis

Stok Pangan Minim, Jurus Impor Dikerahkan

SENIN, 26 MARET 2018 | 09:47 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Langkah stabilisasi harga pangan dalam negeri lewat pembukaan keran impor, men­jadi realistis yang sudah sehar­usnya dilakukan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perdagangan.

Pasalnya, realisasi program ketahanan pangan sejumlah komoditas pangan masih min­im. Importasi juga adalah solusi efektif untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari produksi pangan dalam negeri yang sulit mencapai target swasembada.

Hal ini disampaikan Ekonom Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih. Tugas Kementerian Perdagangan di sektor pangan, jelasnya, memang tak terlepas dari dua aspek, yakni ekspor komoditas dan upaya untuk stabilisasi harga pangan lewat impor.


"Fokus Kementerian Perdagangan saat ini lebih besar ke­pada stabilisasi dalam negeri. Kita melihat itu nggak salah, karena memang ada kebutuhan yang cukup mendesak terh­adap stabilisasi harga pangan,"  tuturnya.

Menurut Lana, persoalan stabilisasi harga sebenarnya tak perlu dikejar lewat im­portasi komoditas. Syaratnya, produksi pangan dalam negeri sudah berlebih atau swasem­bada.

"Kalau itu terjadi, kita bisa mengurangi impor secara ber­tahap. Tentunya bagus, tapi belum dimulai, jadi harus impor. Kalau tidak, harga melonjak tinggi, pada teriak di dalam negeri. Akibatnya, bisa menimbulkan kondisi sosial yang tidak baik. Itu yang akh­irnya disiasati dengan program jangka pendek seperti impor," bebernya.

Lana mencontohkan soal impor bawang putih yang mau tak mau harus dilakukan kar­ena lahan yang terbatas untuk produksi bawang putih.

"Jadi, lebih banyak untuk jangka pendek sih, shortcut demi stabilisasi. Dalam jangka panjang, mestinya ketahanan pangan yang diusulkan Pak Jokowi pada awal pemerintahan itu betul-betul semestinya diker­jakan mulai sekarang. Kan kita belum, akibatnya harus impor," kata Chief Economist Samuel Sekuritas tersebut.

Dia melihat, antisipasi jang­ka pendek ini cukup efektif menekan lonjakan harga yang berujung terkereknya inflasi pangan. "Inflasi kita kan hanya 3 persenan. Di antaranya ada­lah efek dari impor tadi kan," imbuhnya.

Lana sendiri mengapresiasi langkah Kementerian Perdagangan yang tengah berupaya terus menyelidiki im­portir-importir nakal yang berusaha mennyiasati aturan impor. "Kalau perlu disebutkan importirnya siapa namanya, terus nggak boleh dikasih mandat lagi untuk impor," ucapnya.

Dia pun yakin, langkah me­merangi kecurangan yang dilakukan importir nakal, tidak akan membuat jumlah im­portir berkurang. "Nggak ada efeknya. Banyak yang mau jadi importir. Kalau ada yang nakal, terus diganti sama yang lain, kan dia (importir) yang rugi sendiri," ujar Lana.

Hal senada disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati. Menurutnya, dengan keterbatasan produksi bawang putih di dalam negeri, saat ini importasi menjadi satu-satunya jalan keluar agar pasokan dan harga tetap terjaga.

Hanya saja, Enny berharap, impor yang dilakukan tidak sampai membuat petani bawang putih lokal rugi. "Impor sebe­narnya tidak apa-apa asal tidak mengganggu petani kita. Untuk bawang putih porsi impor me­mang masih besar, karena itu hanya bisa diproduksi di dataran tinggi," tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Anggrijono baru-baru ini menyebutkan, ada dua usaha kucing-kucingan importir nakal yang berhasil dicegah Kemendag. Pertama, impor bibit bawang putih yang ternyata dijual ke pasar seba­gai produk konsumsi. Kedua, masuknya jeruk impor illegal dari Cina.  ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya