Berita

Foto/Net

Bisnis

Bubarkan BPH Migas!

Dinilai Bebani Keuangan Negara
KAMIS, 22 MARET 2018 | 11:08 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) men­desak Presiden Joko Widodo membubarkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Pasalnya, BPH Migas dianggap tidak efektif dan bahkan kontra produktif dengan berbagai kebijakan Pemerintah.

"Pengawasan mereka sangat lemah, tidak efektif. Bubarkan saja karena tidak ada manfaat­nya, hanya membebani keuan­gan negara," kata Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman, di Jakarta, kemarin.

Menurut Yusri, BPH Migas memang tidak bekerja seperti yang diamanahkan melalui Perpres Nomor 141 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran BBM.


Dalam hal ini, seharusnya BPH Migas melakukan pen­gawasan secara menyeluruh terhadap distribusi BBM. Tapi nyatanya, lanjut Yusri, badan tersebut tidak bisa mendeteksi banyaknya dugaan pelangga­ran distribusi.

Dia mencontohkan, di ber­bagai daerah banyak terjadi BBM yang tidak tepat sasaran. Semisal, banyaknya kalangan industri yang diduga meng­gunakan BBM penugasan. Harusnya, BPH Migas men­deteksi pelanggaran tersebut sejak awal.

BPH Migas, lanjut dia, bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian dan melakukan semacam operasi intelijen. "Mereka punya anggaran tetapi diam saja atau pura-pura tidak tahu. BPH Migas baru teriak ketika sudah terjadi gejolak atau ketika mahasiswa melaku­kan demo," tegas Yusri.

Tidak hanya itu. Yusri juga menduga, bahwa BPH Migas tidak melakukan pengawasan terhadap kualitas BBM . Hal ini tentu sangat rawan, karena yang dirugikan adalah masyarakat sendiri.

"Pernah tidak mereka melakukan uji petik terhadap kuali­tas di tempat yang jauh dari kota? Sejauh ini tidak pernah. Padahal, yang seharusnya melakukan kontrol adalah BPH Migas," lanjut dia,

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin juga mendesak pembubaran BPH Migas. Menurutnya, banyak pernyataan BPH Migas yang tidak memperlihatkan kapasitas memadai. Salah satu contoh, ketika BPH Migas mempersoalkan sedikitnya konsumsi Premium.

Padahal penurunan terjadi, antara lain karena perkem­bangan kendaraan terbaru yang memang diperuntuk­kan bagi BBM dengan oktan tinggi. Belum lagi terbitnya Permen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor P.20/MENLHK/Setjen/KUM.1/3/2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Selain itu, tentu saja hasil penelitian antara KPBB dan Universitas Indonesia tentang emisi Premium yang menyebabkan kanker.

Sebelumnya, BPH Migas memperkirakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sepanjang tahun 2018 sebesar 75 juta kilo liter (KL). Kepala BPH Migas Fanshurulloh men­gatakan jumlah itu dibagi menjadi jenis BBM tertentu (JBT) sekitar 16,2 juta KL untuk solar dan minyak tanah, jenis BBM khusus penugasan (JBKP), dan jenis BBM umum (premium, pertalite, pertamax) sekitar 51,3 juta KL.

Jenis BBM tertentu yakni bensin jenis solar dan minyak tanah, BBM khusus penugasan adalah bensin dengan RON 88 atau premium dengan harga khusus ditetapkan pemerintah. Sementara jenis BBM umum bensin non subsidi mulai dari Oktan 88 ke atas.

Dari jumlah itu, PT Pertamina (Persero) mengelola sekitar 79 persen dari total kuota BBM nasional sepanjang tahun ini yang terdiri dari 15,9 juta KL untuk solar dan minyak tanah, dan premium khusus untuk luar Jawa, Bali dan Madura sebanyak 7,5 juta KL. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya