Berita

Foto/Net

Bisnis

3 Bulan Terakhir Defisit, BPS Warning Pemerintah

Nilai Ekspor Industri Makin Jeblok
JUMAT, 16 MARET 2018 | 10:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Neraca perdagangan selama tiga bulan terakhir berturut-turut defisit. Kondisi ini rentan membuat kinerja perekonomian Indonesia semakin tertinggal dari negara tetangga.

 Badan Pusat Statistik (BPS) me­nyampaikan, neraca perdagangan Indonesia bulan Februari desifit sebesar 120 juta dolar Amerika Serikat (AS). Karena, nilai ekspor hanya sebesar 14,10 miliar dolar AS, lebih besar daripada impor sebesar 14,21 miliar dolar AS.

"Ini warning untuk kita semua. Karena, neraca perdagangan defisit selama 3 bulan berturut-tu­rut," ungkap Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, kemarin.


Seperti diketahui, Desember 2017 neraca perdagangan defisit sebanyak 270 juta dolar. Dan, Janu­ari 2018 juga mengalami defisit sebesar 670 juta dolar AS.

Kecuk memaparkan, nilai ekspor Indonesia pada Februari sebesar 14,10 miliar dolar AS tersebut menurun 3,14 persen dibandingkan ekspor Januari 2018. Begitupun nilai impor Februari 2018 sebesar 14,21 mil­iar dolar AS, turun 7,16 persen dibanding Januari 2018.

Menurutnya, nilai ekspor ini menurun disebabkan penurunan harga di sektor non-migas yang memiliki share terbesar terhadap total ekspor mencapai 90,13 persen. Sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah industri sebesar 72,38 persen diikuti tambang 16,08 persen dan migas 9,87 persen.

Sedangkan untuk impor, per­tumbuhannya didominasi oleh kelompok bahan baku dan bahan penolong yang sharenya menca­pai 74,43 persen.

Kecuk mengatakan, neraca perdagangan harus segera dibe­nahi. Pemerintah harus segera meningkatkan ekspor. Hal itu bisa dilakukan dengan cara memper­luas pasar ekspor non tradisional. Selain itu, meningkatkan nilai tambah terhadap barang ekspor. Tidak lagi mengirimkan barang mentah namun harus barang yang sudah diolah. "Jika tidak segera dibenahi, perdagangan Indonesia akan semakin tertinggal dari negara tetanga seperti Thailand dan Vietnam," ungkapnya. Dia berharap, bulan depan neraca perdagangan surplus.

Direktur Institute for Develop­ment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati juga memberikan warning kepada pe­merintah. Menurutnya, pemerin­tah harus mencermati defisit per­dagangan. Apalagi, saat ini kinerja ekspor sedang hadapi tantangan gejolak perekonomian dunia.

"Saat ini sedang ada perang dagang AS dan China, itu bisa mempengaruhi kinerja ekspor. Pemerintah harus mensiasatinya dengan mencari negara tujuan ekspor baru," kata Enny kepada Rakyat Merdeka.

Merujuk data BPS, tujuan ekspor non migas Indonesia masih men­gadalkan China, AS, dan Jepang. Pada bulan Februari, pangsa ekspor ketiga negara mencapai 36,49 persen. Rinciannya, nilai ekspor RI ke China mencapai 2,06 miliar dolar AS, naik dibandingkan Januari 1,19 miliar dolar AS. Kemudian AS 1,28 miliar dolar AS turun dibandingkan Januari 1,54 miliar dolar AS, dan Jepang 1,26 miliar dolar AS turun dibanding periode Januari 1,38 miliar dolar AS.

Enny menilai, neraca perda­gangan bulan depan rentan men­galami defisit kembali. Karena, impor bahan baku cukup tinggi, sementara kinerja ekspor belum menunjukkan perbaikan.

Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mu­lyani berharap defisit anggaran tidak sampai menganggu kinerja perekonomian. "Indonesia harus meningkatkan ekspor sekaligus meningkatkan capital inflow supaya defisit yang berasal dari impor ini tidak menimbulkan persepsi mengenai eksternal risk kita," jelas Mulyani.

Ani-panggilan akrab Sri Muly­ani mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah mitigasi untuk mengantisipasi dampak kemungkinan berlanjutnya pen­ingkatan impor yang menjadi penyebab defisit perdagangan. Mitigasinya antara lain dilaku­kan dengan menggenjot kinerja ekspor dan meningkatkan arus modal yang masuk ke Indonesia (capital inflow).  ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya