Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Terancam Hentikan Produksi

Stok Garam Lampu Kuning
SELASA, 13 MARET 2018 | 08:56 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) mengatakan, stok garam industri sudah lampu kuning. Jika dalam hitungan minggu tidak ada pasokan, produksi akan berhenti.

Wakil Ketua Umum bidang Kebijakan Publik & Hubun­gan Antar Lembaga Gapmmi Rachmat Hidayat mengatakan, stok garam untuk industri sudah sangat mengkhawatirkan. Jika dibiarkan saja, akan mengancam produksi industri makanan dan minuman (mamin).

"Beberapa anggota stoknya sudah kritikal, sudah mau habis, sementara izin impor garam re­komendasinya belum juga turun. Saya nggak tahu persis stok ting­gal berapa, tapi mungkin dalam hitungan minggu sudah setop," ujar Rachmat kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Dia meminta, pemerintah di­minta segera membuat kebijakan agar produsen tidak menghenti­kan produksi. Apalagi, sebentar lagi memasuki bulan Ramadan, di mana permintaan mamin bi­asanya meningkat tajam.

"Jika masalah ini berlarut-larut, maka perusahaan akan mengu­rangi shift kerja, semua 3 menjadi 2, kemudian jadi 1 shift. Barulah terjadi penghentian produksi jika dalam periode tersebut belum muncul stok," ujarnya.

Kondisi tersebut juga akan berdampak pada penurunan pen­jualan. Efeknya, perusahaan akan rugi karena mereka tetap harus membayar gaji dan biaya lainnya. "Negara juga terdampak karena PPN (Pajak Pertambahan Nilai) turun. Logistik juga banyak yang nganggur, distributor tak jualan, dan supplier tak ada orderan," kata Rachmat.

Menurut dia, meski komposis­inya sedikit, peran garam sangat vital dalam industri mamin. Parahnya lagi, garam tidak bisa diganti oleh bahan lain.

Ketua Umum Gapmmi Adhi Lukman menyayangkan, izin impor garam industri belum juga keluar. Padahal kontribusi ma­min terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor nonmigas mencapai 35 persen. Gappmi sudah melaporkan kejadian ini kepada Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Dia meminta, pemerintah segera memberikan izin ekspor dalam jumlah berapapun dari kuota yang ditetapkan sebanyak 460 ribu ton. Jika tidak, kon­sekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi akan besar.

"Indonesia akan kehilangan pasar ekspor, nilai tambah, dan kesempatan lain karena bahan baku yang sangat kecil," ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan, Franky Widjaja mem­inta, swasembada garam nasional bisa dipersiapkan agar masalah garam industri bisa terselesaikan. Perencanaan swasembada harus jelas investasi dan target pemenu­hannya untuk industri.

Meski begitu, Franky mengim­bau, saat masa transisi menuju swasembada garam, pemerintah tidak menyulitkan pelaku usaha. Produksi garam dalam negeri pasti akan diminati asalkan stan­dar produksinya sesuai dan jum­lah pasokannya mencukupi.

Menanggapi minimnya paso­kan garam industri, Dirjen Per­dagangan Luar Negeri Kemen­terian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, baru mengeluarkan izin impor garam industri 2,37 juta ton. Padahal, kuota impor garam industri ta­hun ini sebanyak 3,7 juta ton.

Alasan dia mengeluarkan sisanya karena belum mendapat rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). "Yang 2,37 juta ton untuk 21 perusahaan sudah. Tinggal yang lain belum karena belum ada rekomendasi KKP," katanya.

Sebelumnya, Menko Kemar­itiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, impor garam industri bakal dihentikan mulai 2021. Se­banyak 30 ribu hektare (ha) lahan di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan disiapkan dalam dua tahun ke depan sebagai lahan garam. Saat ini lebih dari 5 ribu ha sudah mulai jalan.

Nantinya, lahan garam tersebut yang diharapkan da­pat memenuhi kebutuhan garam domestik, termasuk mesin pros­esnya. Tujuannya agar ongkos produksi lebih murah sehingga hasilnya juga bisa diekspor. Se­lain persiapan lahan, Luhut juga tengah menyiapkan infrastruktur pendukung. Di antaranya adalah listrik dan akses transportasi jalan. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya