Berita

Yudi Latief/Humas BNPT

Pertahanan

Saling Memaafkan Lebih Baik Untuk Bangkit Bersama Demi NKRI

SELASA, 06 MARET 2018 | 15:36 WIB | LAPORAN:

Saling memaafkan adalah langkah terbaik untuk mengubur masa lalu yang kelam. Dengan saling memaafkan akan menjadi tonggak untuk bangkit bersama membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang lebih baik di masa mendatang.

Begitu dikatakan Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Yudi Latief. Menurutnya, langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang mempertemukan mantan narapidana terorisme (napiter) dan korban (penyintas) dalam sebuah kegiatan 'Silaturahmi Kebangsaan (Satukan) NKRI)' di Jakarta, merupakan upaya yang baik dan mulia untuk menghilangkan dendam.
 
"Saya sangat mengapresiasi pertemuan itu. Upaya mempertemukan mantan napiter dengan penyintas ini sangat penting. Dengan begitu mereka bisa saling berempati melihat bagaimana kondisi korban, tapi di sisi lain korban juga bisa memahami bahwa aksi-aksi terorisme itu mempunyai akar sosial sebagai penyebabnya," ujar Yudi Latif di Jakarta, Selasa (6/3).


Ia berharap para mantan napiter benar-benar tersadar dan menyadari kesalahan masa lalunya. Artinya mereka akan menyadari daripada meneruskan atau mengulang aksi-aksi kekerasan yang menimbulkan penderitaan, lebih baik melakukan upaya yang lebih produktif, capacity building, dan meningkatkan ilmu pengetahuan agar bisa menjalani hidup lebih baik. Dengan begitu rantai korban terorisme bisa dikurangi di masa mendatang.

"Silaturahmi ini bisa menjadi arena bersambung rasa antara mantan napiter dan penyintas. Dengan begitu masing-masing pihak bisa melihat situasinya secara langsung dan tidak hitam putih lagi. Daripada membuat aksi-aksi yang hanya akan menimbulkan masalah baru, lebih baik mari bangkit bersama menyelesaikan masalah penanggulangan terorisme ini. Saya kira cara BNPT ini sangat brilian," terang Yudi.

Ia menilai silaturahmi ini lebih baik digelar secara terbuka seperti kemarin, daripada diam-diam yang nantinya bisa menimbulkan kesalahpahaman satu sama lain.

Karena aksi terorisme berkaitan relasi politik di masa lalu, ia berpesan kepada para elit di negara ini agar jangan sampai menjadikan politik sebagai alat kepentingan jangka pendek, yang berpotensi menimbulkan korban rakyat yang tidak berdosa.
 
"Begitu elit sudah bisa bersalaman, konflik di bawah belum tentu berakhir. Jadi hati-hati menggunakan trik-trik atau manuver politik yang berpotensi mengadu domba, mobilisasi, persekusi, dan saling serang yang menimbulkan korban yang akan melahirkan dendam baru, yang akan mengembangbiakkan terorisme di masa mendatang," jelasnya.

Yudi menegaskan, capacity building harus terus ditingkatkan karena terorisme ada kaitannya dengan masalah sosial. Salah satunya adalah himpitan ekonomi yang berat membuat seseorang mudah sekali terbuai dengan paham baru yang memberi harapan.

"Kesenjangan sosial yang terlalu lebar harus dipersempit agar bibit radikalisme yang ibarat ranting-ranting kering yang mudah terbakar, tidak mudah tersulut api," tukas Yudi.

Tidak hanya pemerintah, pengusaha, konglomerat juga harus terlibat dalam mempersempit jurang kesenjangan itu.[wid] 

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya