Berita

Jokowi/Net

Politik

Pembangkang Jokowi Tinggi, Pemilih Tunggu Pulung Baru

RABU, 28 FEBRUARI 2018 | 13:55 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Joko Widodo (Jokowi) sebagai petahana masih diperhitungkan tetapi nasibnya bisa berubah suram. Elektabilitas Jokowi masih yang tertinggi tetapi persentasenya mangkrak di bawah 50 persen.

"Ada 48 persen yang tidak ingin Jokowi, plus 6 persen yang tidak menjawab. Artinya 54 persen undecided voters ( pemilih yang belum memutuskan). Undecided menunggu jalan ketiga, logikanya begitu," kata akademisi Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung di acara ILC dengan topik "Jokowi Semakin Kuat?", Selasa (27/2) malam.

Rocky menyebut peluang menghasilkan 'jalan baru' atau capres pilihan lain terbuka lebar karena ketidakpercayaan kepada Jokowi saat ini sangat tinggi. Hal itu ditunjukkan dengan 54 persen undecided.


Secara teoritis, kata dia, menjadi masalah meski sudah mengeluarkan berbagai kartu sakti namun elektabilitas Jokowi sebagai petahana mentok di 44 persen padahal Pilpres di depan mata.
 
"Ini problem. Kalau dipamerkan sukses pembangunan tapi resultantenya kok 44 persen," katanya.

Boleh saja, kata dia, hari ini disebut tidak ada figur yang elektabilitasnya mengalahkan Jokowi. Tetapi, kata Rocky, peluang lahirnya jalan ketiga sangat terbuka. Jokowi sangat mungkin kalah.

"Logikanya kalau misalnya disurvei 0 sekian, Anies (Baswedan) naik 7, Agus (Harimurti Yudhyono) di sekitar situ, terus disebut orang ini gak mungkin menyaingi Jokowi. Tapi jangan lupa mereka dari 0 persen, Jokowi dari 46 persen ke 44 persen. Bisa saja mereka tiba-tiba naik dua digit, naik secara ekponensial. Itu yang justru jadi faktor penentu politik hari ini. Bahwa ada peluang melahirkan jalan ketiga," katanya.

Siapa undecided? Dalam kultur politik Jawa menurut Rocky, artinya kelompok balelo atau putus asa. Mereka menunggu 'pulung' (sosok) baru.

"Kalau dalam pemilu undecided biasa, tapi ini undecided terhadap petahana. Artinya ini pembangkangan. Undecided adalah peluang untuk menghasilkan jalan baru," katanya.[dem]
 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya