Berita

Foto: Net

Politik

Haris Moty: Yang Harus Diselidiki Siapa Dalang di Belakang Jokowi

SABTU, 24 FEBRUARI 2018 | 21:11 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Deklarasi dukungan Joko Widodo sebagai calon presiden kelihatannya dalam beberapa hari ke depan masih akan menjadi bahan pembicaraan.

Pengamat politik Hendri Satrio menilai ada yang janggal dalam deklarasi itu. Kejanggalan pertama terkait waktu. PDIP terlihat seperti tergesa-gesa, sementara biasanya partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu kerap bermain di saat injury time.

Kejanggalan kedua terkait dengan dukungan yang disampaikan dalam forum tertutup, dalam Rakernas PDIP di Bali.


Di sisi lain, aktivis Haris Moty menilai bahwa yang paling penting bukan mempersoalkan mengapa PDIP memberikan dukungan di "pagi hari", atau mengapa dukungan disampaikan di forum tertutup.

Haris Moty menduga adalah semacam konsorsium dalang yang selama ini  berada di belakang Jokowi dan memanfaatkan dirinya.  

"Jadi, yang harus diselidiki dan diungkap adalah siapa dalang dibalik Jokowi. Seret si dalang di depan panggung untuk mempertangungjawabkan agendannya besrsama Jokowi," kata Haris Moty dalam keterangan kepada redaksi.
 
Dia mengingatkan, Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada konstitusi, dan semua proses pengambilan kebijakan harus terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan. Mantan aktivis anti Orde Baru ini menambahkan, bahkan Soeharto yang kerap dikatakan otoriter memberi ksempatan agar konsep pembangunannya didepat dan dibicarakan.

"Lha, ini Jokowi tidak jelas konsepnya. Parlemennya juga dipreteli fungsinya. Rakyat diadu domba pakai isu agama dan isu lainnya, agar kita tak bisa berpikir dan menilai konsep pembangunan Jokowi," ujarnya lagi.

"Konsepnya digenggam oleh si dalang sendiri, bahkan sebagai wayang Jokowi mungkin saja tidak mengerti," tegas Haris Moty lagi.

Dia meminta agar "konsorsium dalang" di belakang Jokowi tampil secara ksatria mempertanggungjawabkan konsep tentang pembangunan Indonesia.

"Kita mau debat sama si dalang. Tak ada gunan berdebat sama wayang," tutup Haris Moty.

Pernyataan Haris Moty ini tentu berseberangan dengan penilaian kelompok pendukung Jokowi, termasuk PDIP.

Politisi PDIP Ario Bima, misalnya, mengatakan bahwa pencalonan kembali Jokowi merupakan bentuk penghormatan PDIP terhadap aspirasi rakyat yang masih menginginkan Jokowi memimpin Indonesia. [dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya