Berita

Foto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Komjen Budi Waseso: Pengganti Saya Harus Orang Yang Punya Karakter Luar Biasa, Bukan Kosongan

JUMAT, 23 FEBRUARI 2018 | 10:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Perwira Tinggi kepolisian ini dalam waktu dekat akan pensiun. Buwas- sapaan akrab Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso akan meninggalkan jabatannya di BNN pada awal Maret men­datang. Lantas apa saja harapan yang 'ditanam' Buwas kepada perwira penggantinya kelak? Dan apa saja kriteria yang kudu dimiliki penggantinya? Berikut penuturan bekas Kabareskrim Mabes Polri ini;

Anda kan sebentar lagi pen­siun. Apa kriteria yang tepat buat pengganti Anda?
Menurut saya kalau orang 'kosongan' dari narkotika, eng­gak mungkin bisa bekerja di sini (BNN, red). Sudah pasti enggak mungkin dan undang-undangnya mengatakan begitu, tapi ada yang bertanya kepada Pak Buwas tidak punya pengalaman narkotik, bisa? Ya itu karena Tuhan yang menghendaki. Saat diperintah­kan sebagai kepala BNN oleh Presiden, sebenarnya secara persyaratan saya 'kosong' untuk memimpin BNN. Tapi kan sudah perintah presiden dan nega­ra, kan teman-teman tahu saya di­tukar guling, antara Kabareskrim atau kepala BNN. Alhamdulillah Allah itu memang enggak salah nunjuk saya. Nah maka karena Allah saya bisa.

Kenapa harus begitu?

Kenapa harus begitu?
Karena kejahatan (narkoba) ini luar biasa. Kita menghadapi kejahatan manusia-manusia yang punya karakter yang luar biasa, dan perasaannya sudah melebihi dari para binatang. Maka orang yang ada di sini harus orang-orang yang tahu persis, terutama masalah jaringan-jaringan. Kalau normal-normal saja tidak bisa, percaya sama saya. Saya sudah sampaikan kepada presiden, ka­lau pengganti saya paling tidak punya persyaratan. Saya yakin kalau persyaratan terpenuhi maka Kepala BNN bisa melaksanakan tugas di BNN.

Harapan Anda kepada calon pengganti Anda nanti?
Harapan saya sekarang sistem yang sudah terbangun di BNN harus terus dilanjutkan. Kerja sama yang telah terbangun dan sinergitas baik dengan TNI dan Polri, Bea Cukai, PPATK dan lainnya harus terus dibangun. Bagaimana kita kalau tanpa itu, mana mungkin kita bisa mengungkap TPPU tanpa ban­tuan PPATK, yang sekarang sedang kami telusuri. Kejahatan narkotika itu menghasilkan uang hingga Rp 7,4 triliun per tahun. Tahun 2016 itu peredaran uang­nya mencapai Rp 3,6 triliun, dan tahun 2017 ada Rp 7,4 triliun. Total dana yang sedang BNN lempar ke PPATK kurang lebih ada Rp 45 triliun.

Oh ya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ngajak ketemuan untuk membahas temuan BNN yang mengungkap banyaknya peredaran narko­tika di tempat hiburan malam di Jakarta. Sikap Anda?
Saya siap bertemu terkait 36 diskotek itu. Tapi saya maunya kalau ada tindakan lanjut, kalau enggak, saya enggak mau.

Gubernur DKI sudah menya­takan akan menindak tegas?
Saya enggak mau ngomong-ngomong aja. Enggak ada gunan­ya, harus konsekuen. Jadi kalau hanya ngomong doang, enggak perlu. Tapi kalau Pak Anies siap betul, saya kasih terus langsung tutup, saya baru mau kasih tahu.

Ke-36 itu diskotik mana saja sih?
Saya tidak bisa ungkapkan karena itu masih menjadi target. Saya sudah sampaikan kepada anggota, target ini harus bisa disergap, harus bisa dibuktikan. Tapi itu tadi, kalau benar mau ada tindaklanjutnya, saya bisa kasih tahu ke Pak Anies.

Bagaimana Anda bisa tahu ada narkotik di sana?
Jadi menurut informasi pere­darannya ada 81 diskotik di Jakarta. Kemudian saya random, saya suruh anggota untuk beli di 36 diskotik dan dipastikan positif ada (narkoba). Saya su­ruh orang untuk beli. Ternyata memang ada, baik itu sabu maupun ekstasi. Semua wilayah di Jakarta terwakili, ada.

Paling banyak itu di wilayah mana?
Saya enggak bisa sebutkan yang paling banyak, pokoknya yang penting rata-rata Jakarta lah, karena yang kemarin paling besar kita temukan peredaran besarnya juga di Jakarta.

Lalu apa pesan Anda terkait hal ini?
Negara kita ini perlu action, perlu perbuatan nyata. Saya se­rahkan kepada Kepala BNNP DKI, karena itu wilayahnya BNNP, saya tidak boleh melang­kahi itu. Tapi kalau hanya untuk main-main, enggak mau saya. Kalau Pak Anies betul yang saya kasih terus langsung ditutup, saya mau. Tapi kalau enggak mau, enggak usahlah, itu untuk saya sendiri gitu saja. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya